Stunting di Bantul Turun Jadi 8,3 Persen, Paparan Rokok Masih Jadi Tantangan
- 05 Agt 2026 12:10 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul mencatat angka prevalensi stunting pada awal tahun ini mengalami tren penurunan. Berdasarkan hasil pengukuran pada Februari 2026, prevalensi stunting berada di angka 8,3 persen. Hasil itu lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 dengan angka stunting mencapai 9,05 persen.
Di balik capaian tersebut, pemerintah daerah masih harus menghadapi berbagai faktor risiko penyebab utama stunting di wilayahnya. Dari hasil pemetaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, paparan asap rokok di lingkungan keluarga menjadi penyumbang terbesar pada kasus stunting di Bumi Projotamansari.
Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widyantara menyatakan, perokok dalam keluarga merupakan faktor penyumbang stunting paling dominan dengan persentase mencapai 61,9 persen. Kondisi itu pun cukup memprihatinkan karena lebih dari separuh anak stunting di Bantul tumbuh dalam lingkungan perokok.
“Faktor penyebab stunting terbesar di tingkat kabupaten itu adalah paparan perokok dalam keluarga, yakni 61,9 persen. Jadi dari anak-anak stunting ini 61,9 persen di dalam keluarganya ada yang merokok,” ucapnya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Bahkan, di salah satu kapanewon, seluruh anak stunting tercatat tinggal di keluarga yang memiliki anggota perokok. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan merokok masih menjadi persoalan serius dalam upaya percepatan penurunan stunting.
“Yang lebih mengherankan, di kapanewon tersebut 100 persen keluarganya merokok, tetapi juga 93,8 persennya berasal dari keluarga miskin. Jadi keluarga miskin, tapi masih sempat beli rokok,” ujarnya.
Selain itu, faktor penyebab stunting adalah kondisi ekonomi. Dinkes Bantul mencatat 41 persen anak stunting berasal dari keluarga kurang mampu. Meski begitu, Agus menyebut bahwa stunting tidak hanya terjadi pada keluarga prasejahtera.
“Memang 41 persen anak stunting berasal dari keluarga miskin. Tapi dari keluarga tidak miskin pun banyak yang stunting, hampir 60 persen,” katanya.
Selanjutnya, pola pengasuhan juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada angka stunting. Dari data Dinkes Bantul, sebanyak 35,4 persen anak stunting tidak mendapat pengasuhan langsung dari ibu.
“Faktor ketiga yakni pengasuhan campuran atau orang lain. Jadi tidak diasuh oleh ibu kandung, melainkan dititipkan ke pembantu, kakek dan neneknya, bahkan di tempat penitipan anak,” ucapnya menambahkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....