Rektor UGM Tinjau PIONIR, Pastikan Maba Belajar dengan Nyaman

  • 05 Agt 2026 06:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., meninjau pelaksanaan hari kedua PIONIR Gadjah Mada 2026 di sejumlah fakultas pada Selasa, 4 Agustus 2026. Peninjauan dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian orientasi mahasiswa baru (maba) berlangsung sesuai tujuan, mulai dari penyampaian materi, kesiapan fasilitator, hingga dukungan sarana dan prasarana.

Pada hari kedua PIONIR, mahasiswa baru memperoleh pembekalan mengenai kehidupan kampus, organisasi kemahasiswaan, literasi keuangan, fasilitas akademik, serta penguatan konsep Safety, Health, Environment (SHE) dan Green Campus. Ova Emilia mengatakan, kegiatan monitoring menjadi bagian dari evaluasi pelaksanaan orientasi di tingkat universitas sebelum mahasiswa mengikuti kegiatan di fakultas maupun sekolah masing-masing.

Menurutnya, evaluasi tersebut bertujuan memastikan mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang nyaman dan bermakna sejak awal memasuki perguruan tinggi.

“Kami melihat bagaimana pelaksanaan di lapangan, apakah ada kendala terkait ruang, materi, fasilitator, maupun fasilitas lain yang diperlukan mahasiswa selama mengikuti PIONIR,” ujarnya.

Ova menjelaskan, selama tiga hari pertama mahasiswa mengikuti orientasi tingkat universitas sebelum melanjutkan kegiatan di fakultas dan sekolah. Setelah itu, mereka juga akan mengikuti Action Plan dengan terjun langsung ke lingkungan sekitar kampus sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman.

“Ada orientasi yang terkait dengan Action Plan. Mereka diterjunkan ke masyarakat di sekitar kampus untuk mengalami proses pembelajaran secara langsung,“ katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menyampaikan PIONIR dirancang untuk membantu mahasiswa mengenal lingkungan kampus beserta berbagai layanan pendukung yang tersedia selama masa studi.

Selain pengenalan budaya akademik, mahasiswa juga mendapatkan materi mengenai relasi yang sehat, pencegahan kekerasan, hingga layanan perlindungan yang dimiliki kampus.

“Spirit PIONIR adalah non-violent. Kami mengenalkan berbagai layanan yang dimiliki UGM, termasuk Unit Antikekerasan, sehingga mahasiswa mengetahui lingkungan belajar yang aman dan nyaman sejak awal,” ujarnya.

Arie menambahkan, pembentukan karakter mahasiswa juga diperkuat melalui materi Green Campus dan pelaksanaan Action Plan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa didorong untuk mengenal lingkungan tempat tinggal, membangun hubungan dengan masyarakat sekitar, serta meningkatkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan.

“Mereka kami ajak mengenali lingkungan sekitar, berinteraksi dengan Pak RT, Ibu kos, bekerja sama, dan peduli terhadap persoalan sampah agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka tinggal,“ katanya.

Dalam kunjungan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, juga meninjau pelaksanaan PIONIR bagi mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Wening menjelaskan, seluruh mahasiswa RPL tetap mengikuti rangkaian PIONIR sebagaimana mahasiswa baru lainnya. Bahkan, beberapa peserta yang telah berprofesi sebagai tenaga kesehatan turut membantu pelaksanaan kegiatan sebagai tim kesehatan.

“Mereka tetap ikut PIONIR sebagai mahasiswa baru. Bahkan ada yang sekaligus bertugas sebagai tim kesehatan karena memang memiliki latar belakang profesi di bidang kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, program RPL merupakan implementasi konsep lifelong learning education yang memberikan kesempatan kepada masyarakat melanjutkan pendidikan tinggi melalui pengakuan terhadap pengalaman belajar maupun pengalaman profesional yang telah dimiliki.

Saat ini, skema RPL telah diterapkan di hampir seluruh fakultas UGM, dengan jumlah peserta terbanyak berasal dari bidang kesehatan.

“Mereka tetap mengikuti PIONIR karena berstatus mahasiswa baru. Pengalaman belajar maupun pengalaman profesional yang telah dimiliki di rekognisi, sehingga mereka melanjutkan kompetensi yang belum diperoleh,“ katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....