UGM Prihatin, Minta Mahasiswa Tak Dibenturkan dengan Kelompok Masyarakat
- 03 Sep 2026 12:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan keprihatinan atas kejadian kekerasan yang menimpa mahasiswanya saat menyampaikan aspirasi di Simpang Gramedia, Gondokusuman, Yogyakarta, pada Selasa, 1 September 2026. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito, meminta agar mahasiswa tidak dibenturkan dengan kelompok masyarakat.
Menurut Arie, tindakan kekerasan dalam kejadian tersebut semestinya dapat dicegah oleh aparat kepolisian yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa maupun masyarakat secara keseluruhan.
“Dan catatan yang saya kira sangat penting untuk kita garis bawahi adalah jangan dibenturkan mahasiswa ini dengan kelompok-kelompok masyarakat,” ucap Arie dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu, 2 September 2026.
Ia menilai, mahasiswa yang menyampaikan pemikiran dan aspirasinya merupakan bagian dari sikap kritis dalam merespons situasi yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di tingkat nasional. Menurutnya, mahasiswa merupakan kelompok intelektual dan aktivis yang memiliki idealisme serta kepekaan dalam merespons berbagai situasi.
“Karena itu, saya berharap juga para pimpinan universitas untuk sama-sama melindungi para mahasiswa ini dan sekali lagi jangan sampai mereka dibenturkan pada kelompok-kelompok. Tindakan kekerasan apa pun yang dilakukan jelas tidak dibenarkan,” katanya menegaskan.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempi Suyatna, menyatakan komitmennya untuk melindungi mahasiswanya saat menyampaikan pemikiran kritis dan kritik terhadap kondisi ekonomi serta situasi publik yang terjadi.
Hempi menjelaskan aksi tersebut pada awalnya berlangsung dengan baik dan tidak ditemukan adanya tindakan provokasi Namun, sekitar pukul 22.00 WIB, mahasiswanya yang tergabung dalam Massa Aksi Damai Cik Di Tiro dipukul mundur oleh kelompok masyarakat dengan tindakan kekerasan.
“Karena adik-adik tidak anarkis, tidak membuat ribut dan sebagainya, tapi kemudian dipukul mundur dengan tindakan-tindakan yang kemudian anarkis. Dan akhirnya ada enam mahasiswa ya, lima mahasiswa dari UGM dan satu mahasiswa dari UNY, yang kemarin akhirnya sempat dirawat di rumah sakit,” ucapnya.
Hempi menambahkan, kejadian tersebut menjadi bahan antisipasi bagi pihak kampus untuk ke depannya. Ia juga menilai pihak keamanan, seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada mahasiswa saat menyampaikan aspirasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....