Empat Kalurahan di DIY Jadi Percontohan Revitalisasi Lumbung Mataraman

  • 01 Agt 2026 16:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mempercepat revitalisasi Program Lumbung Mataraman dengan menetapkan empat kalurahan sebagai lokasi percontohan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong kemandirian masyarakat, sekaligus menjadi salah satu strategi penanggulangan kemiskinan di wilayah DIY.

Kebijakan tersebut dituangkan dalam Instruksi Gubernur DIY Nomor 5504 Tahun 2026 tentang Revitalisasi Lumbung Mataraman melalui Optimalisasi Program Kalurahan Mandiri Pangan untuk Ketahanan Pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Empat kalurahan yang menjadi proyek percontohan yakni Kalurahan Wukirsari di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul; Kalurahan Bendung di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul; Kalurahan Giripeni di Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo; serta Kalurahan Glagaharjo di Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan revitalisasi tersebut merupakan percepatan pengembangan model Lumbung Mataraman yang sebelumnya telah dirintis. Keempat kalurahan itu diproyeksikan menjadi contoh bagi pengembangan program di masing-masing kabupaten.

"Ya, percepatan saja. Kemarin kan baru model, baru empat. Empat itu kita percepat. Satu kabupaten satu," ujar Sri Sultan pada Kamis, 30 Juli 2026.

Sri Sultan menegaskan, keberhasilan Lumbung Mataraman tidak hanya diukur dari peningkatan hasil produksi pertanian. Program tersebut juga harus mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengelolaan usaha yang berkelanjutan.

Menurutnya, sebagian keuntungan dari hasil penjualan produk sebaiknya tidak seluruhnya dibagikan, tetapi disisihkan sebagai modal bersama agar kelompok pengelola memiliki kemampuan mengembangkan usaha secara mandiri.

"Ya saya kira ada yang dibagi hasil mungkin dengan petani atau apa, tapi mestinya ada yang disisihkan untuk ditabung. Dalam arti ditabung itu kepemilikan bersama yang bisa jadi modal. Kalau enggak ya bantuan sekali saja. Jangan setiap tahun. Mestinya kan begitu. Karena produk itu kan dijual," kata Sri Sultan.

Ia berharap keuntungan dari usaha Lumbung Mataraman dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi sumber pembiayaan untuk memperluas usaha pada musim tanam berikutnya.

"Saya berharap penjualan itu juga menguntungkan, jangan rugi. Nah, nanti di situ kan ada keuntungan. Keuntungan ada yang bisa dibagi kepada masyarakat. Tapi dibikin sisa. Sisa ditabung atas nama siapa kesepakatannya. Sehingga akhirnya dia punya modal yang mungkin bisa nanti nyewa sendiri. Lebih dari satu hektare, kan gitu. Daripada manggur misalnya. Jadi, untuk meningkatkan kesejahteraan itu ada," katanya.

Sri Sultan menambahkan, pola pengelolaan tersebut diharapkan mampu membentuk kelompok usaha yang lebih mandiri sehingga tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah setiap tahun.

"Kalau sekali panen, bubar. Minta bantuan lagi, ya jangan begitu," kata Sri Sultan.

Melalui revitalisasi ini, Pemda DIY juga memperkuat sinergi antara pemerintah kabupaten, perangkat daerah, pemerintah kalurahan, dan pendamping teknis agar pelaksanaan program berjalan berkelanjutan. Keempat kalurahan percontohan tersebut diharapkan dapat menjadi model yang dapat diterapkan di wilayah lain untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pemberdayaan masyarakat, serta mendukung upaya pengentasan kemiskinan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....