Keunikan Proses Fermentasi dalam Pengolahan Pangan dan Minuman

  • 31 Jul 2026 23:10 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Olahan pangan dan minuman hasil proses fermentasi telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, menurut Ir. Lukman Amin, M.P. dari Harmoni Herbal Yogyakarta mengatakan sebagian besar masyarakat belum memahami secara mendalam prinsip biokimia serta peran mikroorganisme yang bekerja di balik pembuatan produk fermentasi tersebut. Hal itu disampaikan lukman saat berbincang di program Mbangun Desa Pro 4 RRI Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Lukman menjelaskan bahwa fermentasi merupakan serangkaian proses biokimia yang melibatkan mikroorganisme atau agen biologis mikroskopis. Mikroorganisme tersebut secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok utama Bakteri, Ragi / Yeast, danJamur / Fungi (dapat terlihat seperti jamur tempe atau tape) serta kombinasi dari ketiga jenis tersebut

"Prinsip dasar dari fermentasi adalah penguraian senyawa gula oleh mikroorganisme yang menghasilkan produk sampingan berupa alkohol dan gas karbon dioksida (CO2). Apabila proses fermentasi terus dilanjutkan, senyawa tersebut akan mengalami oksidasi lanjutan menjadi asam cuka," ujar Lukman.

Lukman menegaskan terkait pandangan masyarakat yang kerap mengidentikkan produk fermentasi dengan minuman keras yang memabukkan. Menurutnya, efek memabukkan tersebut bukan disebabkan oleh teknologi fermentasinya, melainkan akibat penyalahgunaan atau konsumsi yang berlebihan.

Jika dikonsumsi secara terukur dan tidak berlebihan, beberapa jenis minuman fermentasi justru bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan kelancaran sirkulasi darah. Sebaliknya, konsumsi berlebihan hingga satu botol merupakan tindakan penyalahgunaan yang berdampak buruk bagi kondisi mental dan fisik.

Lukman menekankan bahwa fermentasi sejatinya adalah teknologi purba yang telah dipraktikkan nenek moyang sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum sains modern berkembang. Kehadiran ilmu pengetahuan saat ini memberikan penjelasan ilmiah atas tradisi pangan tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal, tidak hanya untuk pangan dan minuman rumah tangga, tetapi juga untuk pembuatan pupuk organik hayati di sektor pertanian.

Ia mencontohkan tempe satu produk makanan lokal yang sudah menduia. Lukman menyebut Produk fermentasi berbasis kedelai ini kini bahkan telah menjadi fenomena global. Dari industri rumahan, tempe telah diproduksi oleh pabrik-pabrik pengolahan berskala besar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Jepang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....