Lindungi Lahan dari Hama Tikus, Pemkab Gunungkidul Andalkan Burung Hantu

  • 31 Jul 2026 18:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul— Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mengembangkan berbagai strategi untuk mengendalikan populasi hama tikus yang kerap mengancam hasil panen petani. Selain menerapkan metode pengendalian konvensional, pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan burung hantu (Tyto alba) sebagai predator alami guna menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, pengendalian hama tikus melalui pelepasan burung hantu telah menjadi program rutin yang dijalankan selama tiga tahun terakhir. Pada program tahun ini, dua ekor Tyto alba dilepasliarkan di wilayah Karangmojo dan Bendung, Kapanewon Semin.

“Jadi keberasaan burung hantu ini efektif membantu menekan populasi tikus tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk mendukung program ini, kami juga telah membangun rumah burung hantu di sejumlah kawasan pertanian, di antaranya di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, dan wilayah Ponjong," ujarnya, Jumat 31 Juli 2026.

Selain memanfaatkan predator alami, pemerintah tetap melakukan pengendalian melalui berbagai cara lain, seperti metode empos atau pengasapan sarang tikus, penggunaan petasan asap, hingga pemasangan umpan rodentisida pada daerah yang terindikasi mengalami peningkatan serangan.

“Kombinasi berbagai metode tersebut hingga kini mampu menjaga populasi tikus tetap terkendali sehingga belum menimbulkan gangguan berarti terhadap produksi tanaman pangan,” katanya.

Ia mengungkapkan, pada Mei lalu sempat terjadi peningkatan serangan tikus di sejumlah lokasi. Menyikapi kondisi itu, Dinas Pertanian dan Pangan segera menyalurkan bantuan rodentisida kepada kelompok tani sebagai langkah pengendalian cepat.

“Saat ini kondisi relatif aman. Sebagian besar petani sudah menyelesaikan panen jagung dan kacang, sedangkan tanaman padi yang masih memasuki masa produksi hanya sedikit sehingga ancaman serangan tikus belum signifikan,” ucapnya, lebih lanjut.

Upaya pengendalian hama tikus sebelumnya juga mendapat perhatian langsung dari Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto. Ia memimpin gerakan pengendalian tikus menggunakan metode empos bersama para petani di Padukuhan Natah, Kapanewon Nglipar.

Menurut Joko, teknik empos dipilih karena lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan racun dalam jumlah besar. Melalui metode tersebut, tikus dapat dimatikan di dalam liang sehingga tidak meninggalkan bangkai yang berpotensi membahayakan predator alami, termasuk burung hantu.

Ia berharap sinergi antara pemerintah dan petani dalam melakukan pengendalian secara terpadu dapat menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem.

“Dengan langkah-langkah yang dilakukan secara berkelanjutan, populasi hama tikus diharapkan tetap terkendali sehingga hasil panen petani dapat terlindungi,” ujar Joko.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....