Mahasiswa dari 17 Negara Belajar Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

  • 30 Jul 2026 06:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sebanyak 25 mahasiswa internasional dari 17 negara mengikuti pembelajaran mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat di Indonesia. Para peserta berasal dari China, Ethiopia, Filipina, Gambia, Indonesia, Kamboja, Kazakhstan, Madagaskar, Malaysia, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Rwanda, Sudan, Tanzania, Vietnam, dan Yaman. Mereka terpilih setelah melalui proses seleksi yang kompetitif dengan total 408 pendaftar dari 42 negara.

Selama 20–26 Juli 2026, peserta mengikuti program Municipal Waste Management: Workshop and Field Trip 2026 yang digelar di Yogyakarta. Kegiatan yang diselenggarakan Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut mengangkat tema "Empowering Communities Through Sustainable Waste Solutions" dan berkolaborasi dengan kelompok KKN-PPM UGM di Kelurahan Baciro dan Terban.

Ketua Program EQUITY World Class University (WCU) UGM, Prof. Irfan Dwidya Prijambada, mengatakan kegiatan ini menjadi sarana memperkenalkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu program unggulan UGM yang telah memperoleh pengakuan dari UNESCO dan United Nations University (UNU). Melalui keterlibatan bersama mahasiswa KKN-PPM di Baciro dan Terban, peserta internasional dapat merasakan secara langsung praktik pengabdian kepada masyarakat yang menjadi ciri khas UGM.

Dalam pelaksanaannya, peserta bersama mahasiswa KKN memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, pemilahan sampah sejak dari sumber, serta pentingnya keterlibatan warga dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

“Kolaborasi ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara mahasiswa internasional, mahasiswa UGM, dan masyarakat lokal, sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya bagi seluruh peserta,” ucapnya, Selasa, 28 Juli 2026.

Irfan menjelaskan, program tersebut mengombinasikan diskusi bersama para pakar, kunjungan lapangan, serta interaksi langsung dengan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan di bidang pengelolaan lingkungan. Melalui pendekatan experiential learning, peserta memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan sampah perkotaan, konsep ekonomi sirkular, pengolahan limbah organik berbasis mikroorganisme, hingga pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.

Kegiatan lapangan menjadi salah satu agenda utama selama program berlangsung. Para peserta mengunjungi sejumlah lokasi pengelolaan sampah di Yogyakarta untuk mempelajari penerapan sistem yang melibatkan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Selain mendapatkan pengalaman teknis, mereka juga berbagi praktik dan tantangan pengelolaan sampah di negara masing-masing.

“Selain memperoleh pengalaman teknis, para peserta juga berdiskusi mengenai tantangan pengelolaan sampah di negara masing-masing sehingga tercipta pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas budaya,” katanya.

Koordinator Seksi Acara, Susanti Mugi Lestari, menilai program akademik bertaraf internasional tersebut mampu mendorong kolaborasi global, memperluas pertukaran pengetahuan, sekaligus meningkatkan kapasitas mahasiswa dan dosen. Menurutnya, kegiatan ini juga memperkuat posisi UGM sebagai perguruan tinggi berkelas dunia yang berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan global.

Sementara itu, Ketua Program Studi Mikrobiologi Pertanian sekaligus PIC kegiatan, Desi Utami, mengatakan salah satu tujuan utama program ini adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman internasional tanpa harus belajar di luar negeri.

“Melalui interaksi dengan puluhan mahasiswa internasional, dapat memperluas jejaring, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta membuka peluang kolaborasi akademik dan profesional di masa mendatang,” ujarnya.

Desi menambahkan, keberagaman asal peserta menjadikan program ini sebagai ruang bertukar gagasan mengenai inovasi, kebijakan, serta praktik terbaik dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Jejaring yang terbentuk selama kegiatan diharapkan berkembang menjadi kolaborasi riset, pendidikan, maupun pengabdian masyarakat di masa mendatang.

“Program ini diharapkan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah untuk diimplementasikan di berbagai negara,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan program tersebut, Departemen Mikrobiologi Pertanian UGM juga semakin memperkuat perannya sebagai pusat pembelajaran internasional di bidang mikrobiologi lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Semangat kolaborasi yang terbangun selama program diharapkan terus berkembang menjadi jejaring global yang berkontribusi nyata dalam menciptakan solusi lingkungan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....