Dedikasi Riset Energi, Guru Besar UGM Raih Penghargaan Nasional
- 30 Jul 2026 06:30 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Guru Besar Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Eng. Deendarlianto, S.T., M.Eng., atau yang akrab disapa Deen, menerima penghargaan Tokoh Penggerak Energi Nasional (Outstanding Contribution to Indonesia’s Energy Sector) dalam ajang Energy Executive Award yang diselenggarakan Majalah Listrik Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Komisi Energi DPR RI di Jakarta, 22 Juli 2026.
Deen menjadi satu dari lima tokoh yang dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan sektor energi dan ketenagalistrikan nasional. Ia mengaku bersyukur atas apresiasi yang diberikan terhadap dedikasinya dalam bidang riset energi.
Selama ini, Deen menekuni penelitian mengenai two-phase flow atau aliran dua fasa, yakni kajian tentang perilaku aliran fluida yang kompleks pada sistem perpipaan, mesin, dan berbagai teknologi pembangkit energi. Di bidang tersebut, ia aktif menjalin kolaborasi riset dengan berbagai institusi di Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, dan Korea Selatan.
Kemitraan internasional tersebut menghasilkan beragam publikasi ilmiah bersama serta hibah penelitian yang semakin memperkuat kiprahnya dalam pengembangan ilmu rekayasa energi.
Selain sebagai peneliti, Deen pernah memimpin Pusat Studi Energi UGM (PSE UGM) pada periode 2013–2022. Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya mengenai energi sebagai bidang yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknik, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu.
“Kami banyak melakukan riset-riset yang bersifat multidisiplin. Jadi ketika bicara ada energy sovereignty, kemiskinan energi juga kita bahas, kemudian aspek politik dari energi, aspek hukumnya energi, low energy politics, energy economic,” katanya, Rabu, 29 Juli 2026.
Ia menjelaskan, berbagai penelitian yang dilakukan bersama tim PSE UGM tidak berhenti pada kajian teoritis, melainkan diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Hasil riset tersebut melahirkan berbagai rekomendasi, mulai dari usulan rancangan undang-undang, perencanaan sistem energi nasional, pemodelan energi terbarukan, pengembangan sistem kelistrikan, hingga inovasi infrastruktur energi di berbagai daerah.
“Penelitian saya dan tim di PSE UGM sangat berpatokan terhadap kondisi masyarakat di wilayah tertentu hingga di Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya.
Menurut Deen, tantangan terbesar dalam penelitian multidisiplin justru terletak pada penyatuan perspektif para peneliti yang berasal dari latar belakang keilmuan berbeda. Namun, melalui proses adaptasi dan saling menghargai, kolaborasi tersebut mampu menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi masyarakat maupun pemerintah.
“Banyak juga hasil-hasil riset kita itu di Pusat Studi Energi UGM yang menjadi acuan di beberapa Kementerian, bahkan juga pernah dibawa ke DPR juga,” ujar Deen.
Ia mengaku semangat mengabdi melalui ilmu pengetahuan telah tumbuh sejak menjadi mahasiswa UGM pada 1991. Setelah menjadi akademisi, komitmen tersebut semakin kuat melalui pengembangan berbagai inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat maupun sektor industri.
“Satu yang mendorong saya sampai saat ini adalah UGM, yang salah satu jati dirinya adalah Universitas Kerakyatan. Artinya apapun karya kita, sebesar apapun karya kita, harus bermanfaat bagi masyarakat. Tentu saja masyarakatnya macam-macam, ada masyarakat di level komunitas, ada juga masyarakat pada level industri,” kata Deen.
Riset Harus Menjawab Kebutuhan Masyarakat Deen menilai setiap penelitian perlu dirancang dengan tujuan yang jelas agar hasilnya dapat dimanfaatkan secara nyata. Menurutnya, peneliti perlu memahami sejak awal siapa pengguna hasil riset dan bagaimana temuan tersebut akan diterapkan.
Ia menambahkan, ilmu pengetahuan yang berkembang di negara maju tidak selalu dapat diterapkan secara langsung di Indonesia. Karena itu, proses hilirisasi hasil penelitian harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat lokal.
Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat maupun dunia industri seharusnya menjadi titik awal dalam menentukan fokus penelitian sehingga laboratorium tidak hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi masyarakat maupun industri perlu dibawa ke laboratorium untuk dijadikan sebagai fokus penelitian,” kata Deen.
Prinsip tersebut juga diterapkannya dalam proses pembelajaran. Ia mendorong mahasiswa untuk terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan nyata melalui kolaborasi dengan industri, peneliti dalam dan luar negeri, serta berbagai laboratorium dan departemen.
Menurutnya, pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif sekaligus membuka peluang mahasiswa mengikuti proyek riset dan kerja sama dengan dunia industri.
"Ilmu itu bisa datang dari mana saja, kerja sama juga bisa dilakukan dengan siapa saja," ujarnya.
Deen menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kolaborasi membuat mereka tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami dinamika penelitian dan dunia kerja.
"Mahasiswa yang terlibat biasanya senang. Selain bisa mengaplikasikan ilmunya, mereka juga memperoleh pengalaman. Pengalaman berhasil maupun gagal sama-sama penting sebagai bagian dari proses belajar," katanya.
Menutup perbincangan, Deen berharap UGM terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa melalui kolaborasi lintas disiplin. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara dosen dan mahasiswa dalam menghasilkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan Indonesia.
"Negara membutuhkan kontribusi kita. Karena itu, sudah saatnya kita berpikir dan berkarya bersama melalui kolaborasi lintas bidang yang memberikan dampak bagi Indonesia. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa juga perlu terus diperkuat," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....