Sosiolog UGM: Kasus Bom Rakitan Cerminan Luka Sistem Pendidikan

  • 29 Jul 2026 20:24 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kasus seorang siswa yang diduga membawa dan merakit bom di lingkungan MAN 3 Kota Padang kembali memantik perhatian publik. Peristiwa tersebut mengingatkan pada insiden serupa yang pernah terjadi di SMAN 72 Jakarta serta memunculkan kekhawatiran mengenai persoalan mendasar di lingkungan pendidikan dan keluarga.

Setelah melakukan penyelidikan, aparat mengungkap pelaku diduga merakit tiga bom rakitan. Salah satu motif yang disampaikan ialah pengalaman menjadi korban perundungan dalam waktu yang lama. Polisi juga mengungkap bahwa pelaku terinspirasi dari kasus serupa di SMAN 72 Jakarta dan mengaku bergabung dengan komunitas siber global bernama True Crime Community.

Menanggapi kasus tersebut, Sosiolog sekaligus Ketua Social Research Center (SOREC) UGM Dr Andreas Budi Widyanta atau Abe, menilai tindakan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial yang membentuk kehidupan seorang anak. Menurutnya, kurangnya perhatian, kasih sayang, hingga pengalaman perundungan dapat menimbulkan luka batin yang mendalam.

“Kemudian ditunjang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Nah situasi itu tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui,” ucapnya, Senin, 27 Juli 2026.

Abe juga menyoroti pengaruh perkembangan teknologi terhadap pola pendidikan. Menurutnya, tiga pusat pendidikan yang terdiri atas keluarga, sekolah, dan masyarakat mulai kehilangan peran karena derasnya arus informasi di media sosial.

Ia mengatakan kemudahan mengakses berbagai konten, termasuk kekerasan dan pornografi, berpotensi memengaruhi proses tumbuh kembang anak. Kondisi tersebut dapat membuat anak meniru berbagai perilaku yang ditemuinya di ruang digital.

“Informasi yang serba tidak sehat untuk tumbuh kembang anak itu membuat anak menjadi sebuah alat yang mengabsorpsi, dan bisa jadi justru menginspirasi anak-anak kita untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh jejak-jejak kekerasan yang ditinggalkan oleh sosial media,” katanya.

Menurut Abe, anak memiliki kemampuan mimesis atau kecenderungan meniru perilaku yang dilihatnya. Dalam konteks ini, berbagai konten kekerasan di media sosial dinilai mudah direplikasi, sementara kemampuan penyaringan konten berbahaya masih menjadi tantangan.

“Kemampuan mimesis yang salah tersebut ialah bentuk kegagalan bagi konstruksi pendidikan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai dua kasus bom di lingkungan sekolah mencerminkan kegagalan konstruksi sosial. Menurutnya, tekanan psikologis dapat memicu dua bentuk ledakan, yakni ke dalam melalui tindakan menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri, maupun ke luar dengan melukai orang lain.

Karena itu, Abe mengingatkan bahwa penyelesaian persoalan tidak cukup hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga perlu menyentuh akar persoalan dalam sistem pendidikan serta memperkuat budaya dialog antara orang dewasa dan anak.

“Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah yang melakukan ini maka kita perlu menukik ke hal yang lebih dalam merefleksikan kembali bagaimana sistem pendidikan kita dan bagaimana memperkuat budaya dialog bersama anak-anak kita,” kata Abe.

Ia menambahkan, budaya dialog di Indonesia masih relatif lemah. Pendidikan dinilai lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan karakter dan kemampuan mengelola emosi.

Menurutnya, pendidikan sejatinya memadukan aspek knowledge dan value. Namun, praktik yang berkembang lebih banyak menekankan penguasaan pengetahuan sehingga anak kurang memperoleh ruang untuk menyampaikan perasaan maupun persoalan yang dihadapi.

Dirinya juga menyoroti belum selarasnya peran keluarga dan sekolah dalam mendampingi perkembangan anak. Tidak sedikit persoalan emosional siswa dianggap sebagai tanggung jawab keluarga, sementara di rumah anak juga belum terbiasa diajak berdialog mengenai perasaannya.

“Sejak kecil, kita tidak pernah diajari mengelola emosi itu karena apa? orangtua maunya yang normatif-normatif saja, kotbah-kotbah moral bahkan dengan dalil-dalil keagamaan kita,” ucap dia.

Selain itu, ia mengkritisi pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran yang dinilai belum tepat. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung proses belajar, bukan menggantikan peran guru dalam mendampingi peserta didik.

Abe juga menilai sebagian pendidik belum menerapkan pendekatan cura personalis, yakni perhatian yang menyeluruh terhadap kebutuhan setiap peserta didik. Kondisi tersebut diperberat dengan jumlah siswa yang besar dalam satu kelas sehingga pendampingan personal menjadi terbatas.

Ketidaksiapan menerima keberagaman

Abe berpandangan perundungan juga berakar dari pola asuh di lingkungan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama bagi anak untuk belajar menerima perbedaan.

Ia menilai masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun sikap yang menghargai keberagaman. Karena itu, perundungan tidak hanya dipandang sebagai persoalan individu, tetapi juga cerminan dari belum kuatnya budaya menerima perbedaan.

“Saya meyakini bahwa keluarga kita tumbuh di dalam ketidaksiapan akan keberagaman. Perundungan bukan persoalan yang sederhana, melainkan karikatur bentuk masyarakat yang tidak siap dengan keberagaman,” ujarnya.

Menurut Abe, kecenderungan membandingkan, memberi label, hingga memandang kelompok lain lebih rendah sering kali dipelajari sejak di lingkungan keluarga. Pola tersebut kemudian terbawa ketika anak berinteraksi di sekolah maupun masyarakat.

Ia juga mengingatkan agar identitas keagamaan tidak dijadikan dasar untuk mendiskriminasi kelompok lain.

“Agama merupakan urusan privasi antara manusia dengan Tuhan, seharusnya jangan dijadikan alat untuk menginvasi pihak yang berbeda,” katanya.

Karena itu, pendidikan mengenai keberagaman perlu diperkuat sejak usia dini agar anak memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan yang harus dihargai.

Dorong pendekatan cura personalis

Di akhir pemaparannya, Abe menegaskan bahwa pembenahan sistem pendidikan harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, serta pemerintah.

Ia mendorong penerapan pendekatan cura personalis yang menempatkan setiap anak sebagai individu dengan karakter, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda sehingga memerlukan pendampingan yang tidak seragam.

“Untuk memulihkan sistem pendidikan yang sudah bobrok ini memang sangat berat apabila tidak didukung solusi dari berbagai arah. Tantangannya adalah bagaimana tripusat pendidikan dan pemerintah dapat membangun sistem yang lebih cura personalis. Tidak ada treatment yang general dalam pendidikan. Kalau ada penyeragaman, berarti itu bentuk kekerasan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....