Hepatitis : Kerap Didengar tapi Masih Disalahpahami
- 07 Agt 2026 16:29 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Hepatitis merupakan penyakit yang sering didengar, tetapi masih kerap disalahpahami. Penyakit ini sering dikaitkan dengan gejala kulit dan mata menguning. Padahal, hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh banyak hal. “Paling banyak adalah disebabkan oleh infeksi virus hepatitis,” jelas dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH dalam podcast TropmedTalk bertajuk “Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?” yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia.
Meski demikian, Staf Divisi Gastroenterologi dan Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM ini menyatakan bahwa hepatitis juga dapat disebabkan karena konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, atau melalui makanan yang kurang terjaga kebersihannya.
Dalam podcast yang tayang di Kanal Youtube Tropmeducation pada 6 Agustus 2026, dr. Fahmi menjelaskan bahwa virus hepatitis terdiri atas hepatitis A, B, C, D, dan E dengan cara penularan berbeda. Hepatitis A dan E menular melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Adapun hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, seperti paparan darah. Sedangkan hepatitis D hanya dapat menginfeksi seseorang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat penyakitnya.
Di antara berbagai jenis hepatitis tersebut, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama karena keduanya berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis maupun kanker hati. Diperkirakan terdapat sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta penduduk terinfeksi hepatitis C. Dengan kasus seperti ini, pencegahan penting dilakukan, disesuaikan dengan cara penularannya.
Hepatitis A dan E dapat dicegah melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan hepatitis B dan C dapat dicegah dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama, tidak berbagi sikat gigi, alat cukur, atau gunting kuku, serta memastikan tindakan medis, termasuk tindik dan tato dilakukan menggunakan jarum yang steril.
Terkait pengobatan, peluang kesembuhan hepatitis berbeda pada setiap jenisnya. Hepatitis A dan E umumnya dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak disertai kondisi yang memperberat penyakit hati. Untuk hepatitis C, dapat disembuhkan melalui pengobatan, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini. “Sedangkan hepatitis B dan D kronis pengobatannya cukup lama,” ungkap dr. Fahmi. Pengobatan ini harus dilakukan sesuai dengan panduan dan pengawasan yang ketat.
dr. Fahmi juga meluruskan mitos bahwa hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama. Orang dengan hepatitis tidak perlu dijauhi. Hepatitis dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya atau seseorang yang terpapar darah dan peralatan tidak steril.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat seperti teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau penurunan kesadaran. Melalui podcast ini, PKT UGM mengajak masyarakat untuk memahami hepatitis berdasarkan fakta, melakukan pencegahan sesuai cara penularannya, serta tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan hepatitis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....