Mengenal Fenomena El Nino, Biang Kerok Musim Hujan Jadi Lebih Panjang dan Kering

  • 29 Jul 2026 09:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bulan Agustus akan menjadi puncak musim kemarau dan diperkirakan akan terjadi dengan jangka waktu lebih lama dan dengan kondisi lebih kering. Hal ini disebabkan adanya fenomena El Nino yang kini terjadi di wilayah Indonesia.

Analis Iklim BMKG DIY Aristya Ardhitama menjelaskan El Nino bukanlah badai. Fenomena ini terjadi lantaran menghangatnya suhu muka laut Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Akibatnya, terjadi penarikan massa udara dan awan hujan dari wilayah Indonesia menuju Samudra Pasifik sehingga pembentukan awan hujan di Indonesia berkurang.

Ardhi mengatakan, fenomena El Nino menjadikan langit cenderung tanpa awan. Saat ini El Nino terpantau masuk dalam kategori kuat. Ardhi mencatat anomali suhu muka pada Mei tercatat mencapai 1 derajat. Lalu pada Juni meningkat mencapai 1,5 derajat dan kembali naik pada awal Juli hingga 1,8 derajat.

“Kalau batasnya El Nino menengah itu 1,5 derajat. Juli ini sudah mencapai 1,8 derajat artinya sudah masuk ke dalam kategori El Nino kuat. Jadi sudah kita prediksikan dalam kategori El Nino event dan juga sudah mencapai kategori El Nino kuat,” kata Ardhi, Senin, 27 Juli 2026.

Ardhi menambahkan fenomena El Nino menimbulkan sejumlah dampak. Diantaranya adalah minimnya curah hujan, musim kemarau yang panjang, terlambatnya musim hujan, dan langit cenderung lebih cerah karena sedikitnya awan hujan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan fenomena La Nina yang justru menyebabkan hujan lebih banyak dari normal, curah hujan meningkat, dan musim hujan lebih panjang atau dikenal masyarakat sebagai "kemarau basah".

Ardhi mengatakan kondisi El Nino kuat juga tercatat sempat terjadi pada 2015 dan 2023. Dia turut menanggapi berbagai informasi terkait El Nino Godzila yang santer diberitakan beberapa waktu terakhir. Menurutnya, istilah ini hanya menunjukkan kondisi El Nino yang masuk dalam kategori kuat. Bahkan, tiap negara memiliki istilah masing-masing untuk mengumpamakan El Nino kuat ini. Meski demikian, Ardhi memastikan interaksi antara laut dan udara sangat dinamis, Untuk itu, pihaknya turut melakukan pemantauan secara berkala.

“Pantauan dari BMKG tiap 10 harian mengeluarkan dinamika atmosfer karena interaksi antara laut dan udara itu sifatnya dinamis. Jadi nanti akan kami update terus,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....