BMKG Prediksi Agustus Jadi Puncak Musim Kemarau di Yogyakarta
- 12 Jun 2026 10:34 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bulan Agustus 2026 akan menjadi puncak musim kemarau di Yogyakarta. Stasiun Klimatologi Yogyakarta memperkirakan musim kemarau kali ini akan lebih kering dibandingkan dengan kondisi normal. Lantaran dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia serta fenomena El Nino yang diperkirakan bertahan hingga September 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan hasil pemantauan atmosfer dan laut menunjukkan sejumlah indikator yang mendukung menguatnya musim kemarau di wilayah Yogyakarta dalam beberapa bulan ke depan.
| Baca juga: Krisis Air Bersih Ancam Wilayah DIY |
“Berdasarkan analisis terkini, fenomena El Nino berada pada kategori moderat dan diprediksi masih berlangsung hingga September 2026. Kondisi ini berpotensi mengurangi curah hujan, terutama di wilayah Yogyakarta,” kata Reni melalui keterangan tertulis, Jumat, 12 Juni 2026.
BMKG mencatat angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator saat ini bertiup dari arah timur. Ini menandakan Monsun Australia aktif. Sementara itu, suhu muka laut di perairan selatan DIY berada pada kisaran normal hingga hangat, yakni antara 26 hingga 30 derajat Celsius.
Reni mengatakan curah hujan selama Juni hingga Agustus 2026 berada pada kategori rendah. Pada Juni, curah hujan diperkirakan berkisar 21-100 milimeter perbulan. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 0-50 milimeter perbulan pada Juli dan hanya 0-20 milimeter per bulan pada Agustus. BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di seluruh zona musim di DIY akan terjadi pada Agustus 2026. Sementara akhir musim kemarau diperkirakan berlangsung pada dasarian pertama hingga kedua November 2026.
Reni mengingatkan kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah daerah, sektor pertanian, maupun masyarakat. Menurutnya, peluang terjadinya El Nino moderat yang mencapai 98 persen dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Diperlukan langkah antisipatif, terutama pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien dan penyesuaian pola tanam agar tidak menimbulkan gagal panen di wilayah yang rentan terhadap kekeringan,” kata Reni.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....