Menjaga Keselarasan Hidup Melalui Etika dan Unggah-Ungguh Jawa

  • 24 Jul 2026 20:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Pembahasan mengenai etika dan unggah-ungguh dalam kebudayaan masyarakat Jawa menjadi hal mendasar yang tak terpisahkan dari keberadaan masyarakat Jawa itu sendiri. Momen penting ini dikupas dalam Siaran Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta pada Rabu 22 Juli 2026 bersama narasumber Dr. R. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., Dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dr. Bima menjelaskan bahwa etika Jawa pada prinsipnya berpusat pada usaha memelihara keselarasan, baik antarmanusia maupun dengan alam raya. Keselarasan inilah yang menjadi fondasi utama dalam menjamin keselamatan hidup (selamet).

"Etika bagi tiap individu masyarakat Jawa adalah semacam 'kewajiban-kewajiban' khas yang ditentukan oleh kedudukan sosial serta nasibnya. Sebagai contoh, bagaimana aturan bersikap antara orang muda kepada yang lebih tua, maupun antarsesama," kata Dr. Bima.

Menurut Dr. Bima, etika dalam kebudayaan Jawa bersumber dari empat hal lahiriah yang kerap dijumpai di tengah kehidupan bermasyarakat:

  • Tuntutan Adat-Istiadat: Aturan dasar tata kehidupan lokal.
  • Tata Krama: Penerapan sikap empan papan dan prinsip "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".
  • Tingkatan Hierarki: Kesadaran akan relasi sosial dalam masyarakat majemuk yang memiliki keberagaman kelas.
  • Kerukunan: Muara akhir dari hubungan sosial untuk menciptakan tatanan yang harmonis.

Dalam hal komunikasi berbahasa, etika Jawa tidak berfokus pada sikap egaliter umum, melainkan pada keharmonisan dan penghormatan. Contohnya terlihat nyata dalam cara menyapa, komunikasi anak saat meminta sesuatu kepada orang tua, hingga tatacara berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Menanggapi dilema masa kini terkait kekhawatiran melunturnya nilai-nilai etika dan moral pada generasi muda, Dr. Bima menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan sebagai kesalahan anak muda semata.

Ia menekankan pentingnya peran generasi yang lebih tua untuk aktif membimbing "Lunturnya nilai etika tidak sepenuhnya kesalahan sosok yang muda. Ini menjadi tugas bersama bagi generasi di atasnya untuk terus memberikan arahan, teladan, serta dorongan ke arah yang lebih baik agar keselarasan hidup tetap terwujud," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....