Perempuan Lebih Rentan Autoimun, Ini Pesan Penting Pakar UGM
- 23 Jul 2026 13:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Salah satu faktor yang berperan adalah pengaruh hormon estrogen terhadap sistem kekebalan tubuh. Perubahan maupun ketidakseimbangan hormon dapat memicu munculnya penyakit autoimun, termasuk pada perempuan usia reproduksi.
Kondisi ini juga perlu menjadi perhatian bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan maupun menjalani program hamil, karena autoimun berpotensi membahayakan ibu dan janin apabila tidak ditangani secara tepat.
Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menjelaskan penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel tubuh sendiri sebagai benda asing. Akibatnya, sistem imun justru menyerang organ tubuh yang seharusnya dilindungi.
Menurutnya, hampir seluruh organ dapat terdampak, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ lainnya.
“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” ungkap Nyoman, Selasa, 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan, sebagian penderita belum merasakan gejala, namun pada kondisi tertentu penyakit autoimun dapat berkembang menjadi berat bahkan mengancam jiwa. Selain faktor genetik, munculnya penyakit ini juga dipengaruhi faktor lingkungan, seperti polusi udara, pola makan yang kurang sehat, hingga stres.
“Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” ujarnya.
Nyoman menilai faktor psikologis menjadi salah satu pemicu yang paling dominan. Bahkan, tidak hanya pekerja, mahasiswa juga berisiko mengalami autoimun akibat tekanan akademik dan beban kehidupan.
“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ucapnya.
Ia membagi penyakit autoimun menjadi dua kelompok, yakni autoimun organ spesifik dan autoimun sistemik. Autoimun organ spesifik menyerang satu organ tertentu, seperti penyakit Hashimoto pada kelenjar tiroid atau diabetes melitus tipe 1 akibat gangguan pada pankreas.
Sementara itu, autoimun sistemik menyerang beberapa organ sekaligus. Salah satu yang paling banyak ditemukan adalah lupus yang dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga organ lainnya. Selain lupus, terdapat pula rheumatoid arthritis, scleroderma, dan berbagai penyakit rematik autoimun lainnya.
Menurut Nyoman, sekitar 80 persen penderita autoimun merupakan perempuan, sedangkan laki-laki sekitar 20 persen. Kasus ini juga lebih banyak ditemukan pada perempuan usia muda karena sistem kekebalan tubuh masih sangat aktif.
Ia mengingatkan terdapat tiga faktor utama yang perlu dihindari agar penyakit tidak mudah kambuh, yakni kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari secara berlebihan.
“Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," katanya.
Selain itu, ia mengimbau penderita membatasi aktivitas fisik yang berlebihan serta menggunakan pelindung ketika harus beraktivitas di bawah sinar matahari.
“Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stress, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” katanya.
Terkait pola makan, Nyoman menyebut hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan makanan tertentu menjadi penyebab utama autoimun. Karena itu, setiap pasien disarankan mengenali sendiri makanan yang berpotensi memicu kekambuhan.
“Karena itu saya selalu menyarankan pasien untuk mengenali tubuhnya sendiri. Dalam bahasa Jawa saya sering mengatakan, dititeni. Artinya, perhatikan dan catat makanan apa yang dikonsumsi, lalu amati apakah setelah itu gejalanya kambuh atau tidak,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan lain dalam penanganan autoimun adalah kepatuhan pasien menjalani terapi. Sebagian pasien menghentikan pengobatan ketika merasa sehat, sementara sebagian lainnya justru mengalami depresi setelah mengetahui diagnosis penyakit.
“Ada pasien yang merasa sudah sehat setelah minum obat, lalu menganggap penyakitnya sudah sembuh sehingga berhenti berobat. Sebaliknya, ada juga pasien yang justru mengalami depresi setelah mengetahui dirinya menderita autoimun dan merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Kedua kondisi tersebut sama-sama menjadi tantangan dalam penanganan pasien,” ucapnya.
Nyoman juga terus mengembangkan penelitian obat herbal sebagai alternatif terapi. Menurutnya, pendekatan ideal bukan hanya menekan sistem imun, tetapi mengembalikan fungsi sistem kekebalan tubuh agar mampu membedakan sel tubuh sendiri dengan benda asing.
“Menurut saya, pendekatan yang ideal bukan sekadar menekan sistem imun, melainkan mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali mana yang merupakan bagian tubuh sendiri dan mana yang merupakan benda asing,” ucap dr. Nyoman.
Ia berharap penelitian tersebut dapat menghasilkan terapi dengan efek samping yang lebih minimal dibandingkan obat imunosupresan.
“Karena itulah saya tertarik mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya,” katanya.
Di akhir, Nyoman mengajak masyarakat menjaga kesehatan fisik maupun mental sebagai langkah pencegahan. Menurutnya, mengelola stres, menghindari kelelahan berlebihan, menerapkan pola hidup sehat, serta membatasi paparan sinar matahari menjadi upaya penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko genetik.
“Ketika seseorang terus-menerus menjalani sesuatu yang tidak disukai, energinya akan terkuras dua kali. Pertama, untuk melawan perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaannya, dan kedua untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri,” ujarnya.
Sementara bagi masyarakat yang memiliki riwayat autoimun dalam keluarga, ia mengingatkan pentingnya mengurangi berbagai faktor pencetus.
“Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan. Selain itu, tentu tetap menjalankan pola hidup sehat, seperti menghindari rokok, alkohol, dan menjaga lingkungan tetap bersih,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....