Berharap “Beras Wutah”, Abdi Dalem Sleman Gelar Siraman Tombak Kyai Turun Sih
- 14 Jul 2026 09:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Pemkab Sleman bersama Paguyuban Abdi Dalem Sleman menggelar jamasan atau siraman tombak Kyai Turun Sih di Pendopo Parasamya Sleman, Senin, 13 Juli 2026. Gelaran ini rutin dilaksanakan setiap tahun tepatnya pada bulan Sura pada penanggalan Jawa atau bulan Muharam pada penanggalan Islam.
Tombak Kyai Turun Sih merupakan pemberian Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 1999. Sih merupakan perlambangan welas asih atau belas kasih. Dengan demikian, tombak Kyai Turun Sih merupakan simbol turunnya rasa kasih sayang atau melambangkan harapan agar para pemimpin senantiasa mengayomi dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Sleman Dwito Jayeng Mardowo menjelaskan tradisi siraman ini dilakukan untuk membersihkan tombak dari kerak ataupun karat. Di sisi lain, siraman juga memiliki makna secara nonfisik yakni sebagai penghilang aura negatif dan pengharapan agar tombak bisa membawa berkah bagi warga Sleman.
“Sebagaimana yang disimbolkan dari tombak itu namanya beras wutah atau kemakmuran,” ujar Jayeng saat ditemui di Pendopo Parasamya Sleman, Senin, 13 Juli 2026.
Jayeng menjelaskan prosesi siraman diawali dengan penyerahan tombak dari Pemkab Sleman kepada abdi dalem sebagai pelaksana siraman. Kemudian, dilanjutkan dengan menyerahkan air suci sebagai sarana untuk menyucikan tombak. Air diambil dari sumur tertua di Sleman dan Sumur Bodronoyo yang ada di Keraton Yogyakarta. Setelah dilakukan serah terima tombak, lalu dilakukan siraman. Terakhir, tombak dikembalikan ke Pemkab Sleman dan diletakkan di Gedung Pusaka yang ada di ruangan Bupati Sleman.
“Kegiatan siraman ini diawali dengan wilujengan atau doa sebagai ungkapan syukur dan mohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Jayeng.
Jayeng mengatakan sejumlah bahan digunakan untuk membersihkan tombak secara fisik. Diantaranya adalah air bunga, kain putih untuk membersihkan kotoran, dan minyak cendana sebagai pelapis tombak. Di samping itu ada pula seperangkat ubarampe. Beberapa diantaranya adalah tumpeng yang memiliki filosofi tumuju ing Pangeran atau selalu berorientasi dan menuju kepada Tuhan YME. Lalu, ada ingkung yang menyimpan filosofi ing sun manekung atau berserah diri kepada Tuhan YME.
“Terdapat buah-buahan 7 warna, ini semua mengandung makna sebagai bentuk syukur dan harapan,” ucapnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Ishadi Zayid mengatakan prosesi siraman atau jamasan memiliki filosofi agar masyarakat Sleman ikut menyucikan diri secara lahir ataupun batin. Dengan demikian, masyarakat bisa hidup rukun dan saling gotong royong serta menjadikan masyarakat sejahtera lahir dan batin. Ishadi mengatakan tradisi siraman menjadi salah satu upaya untuk melestarikan kebudayaan. Dia turut mengajak masyarakat untuk tidak hanya memaknai pelestarian budaya secara fisik, tapi juga meresapi filosofinya.
“Budaya itu menjadi faktor penting dalam pembangunan. Jangan kemudian melupakan jati diri sebagai warga masyarakat Yogyakarta khususnya di Sleman bahwa kita punya budaya adiluhung. Kita harus mengerti, memahami dan mengembangkan, menjaga nilai-nilai budaya yang ada di Kabupaten Sleman,” ucap Ishadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....