Mubeng Beteng Jadi Lambang Bentengi Diri dari Hawa Nafsu
- 14 Jun 2026 16:57 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Abdi dalem Keraton Yogyakarta melakoni sejumlah persiapan untuk menjalani tradisi mubeng benteng tapa bisu dalam rangka memperingati tahun baru hijriah sekaligus tahun baru Jawa pada 16 Juni 2026. Mubeng beteng ini merupakan hajat kawula dalem atau tradisi yang diinisiasi oleh para abdi dalem dan masyarakat Yogyakarta.
Mubeng beteng tapa bisu diawali dengan penabuhan gendhing macapat pada pukul 21.00 WIB. Lalu, kirab mubeng beteng akan diberangkatkan tepat pada pukul 00.00 WIB. Rombongan kirab akan melewati rute jalur tradisional arsitektur beteng Keraton Yogyakarta.
Dengan titik start yakni Kagungan Dalem (KgD) Kamandungan Lor (Keben) - Jalan Rotowijayan - Jalan Pekapalan - Jalan Kauman - Jalan KH. Ahmad Dahlan (Agus Salim) - Jalan KH. Wahid Hasyim - Jalan MT. Haryono - Jalan Mayjend Sutoyo - Jalan Brigjend Katamso - Jalan Ibu Ruswa - Jalan Pekapalan Alun-alun Utara - Jalan Rotowijayan - Kembali ke KgD Kamandungan Lor (Keben).
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Sleman KMT Dwijo Jayeng Mardoyo menjelaskan gelaran mubeng beteng terbuka untuk umum. Berkaca pada tahun sebelumnya, Jayeng memperkirakan setidaknya akan ada 4.000-5.000 orang akan ikut serta pada gelaran mubeng beteng tahun ini. Tak hanya dari Yogyakarta, peserta mubeng beteng juga datang dari luar daerah seperti Magelang, Purworejo, Ngawi, dan berbagai daerah lainnya. Jayeng menambahkan gelaran mubeng beteng telah menjadi peninggalan budaya asal Yogyakarta yang telah diakui UNESCO.
"Wisatawan juga banyak, wisatawan yang kebetulan sedang berlibur di Yogyakarta, kebetulan itu adalah weekend," kata Jayeng saat dihubungi, Minggu, 14 Juni 2026.
Jayeng menambahkan pelaksanaan mubeng beteng tapa bisu ini dimaknai sebagai upaya melestarikan budaya yang ada di Keraton Yogyakarta. Selain itu, mubeng beteng juga diharapkan bisa menjadi momentum untuk membentengi diri terhadap hal-hal negatif dan menahan diri dari hawa nafsu dan raga. Mubeng beteng juga dilakukan tanpa bersuara yang merupakan filosofi dari berdoa kepada Tuhan YME.
"Kita diharapkan banyak untuk berolah batin. Raganya istirahat, raga kita tidak banyak berfoya-foya atau tidak banyak pesta-pesta. Maka besok itu kan lakune lalu diam. Jadi dalam bentuk doa. Jadi tidak ramai-ramai tapi dalam laku sunyi sambil berdoa begitu sesuai dengan agama dan budaya masing-masing," jelasnya.
Jayeng mengajak masyarakat tidak menjadikan tahun baru Jawa dan tahun baru hijriah sebagai seremonial saja. Namun juga memahami dan menghayati nilai-nilai yang ada di baliknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....