Garebeg Besar Keraton Yogyakarta digelar Sederhana, 4.000 Pareden Dibagikan

  • 28 Mei 2026 10:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Upacara adat Garebeg Besar Dal 1959 di Keraton Yogyakarta pada Rabu, 27 Mei 2026 digelar dengan format yang lebih sederhana, yaitu dengan meniadakan arak-arakan kirab gunungan dan iring-iringan prajurit. Dalam prosesi yang tahun ini dipusatkan sepenuhnya di lingkungan internal Keraton, sebanyak 4.000 ubarampe pareden disalurkan kepada para abdi dalem.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara menjelaskan, rangkaian pembagian ubarampe diawali dengan doa bersama yang dipimpin Kanca Kaji sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah itu, pareden dibagikan oleh GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Wironegoro, dan KPH Notonegoro kepada perwakilan abdi dalem untuk selanjutnya diteruskan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan.

"Ubarampe dibagikan kepada perwakilan abdi dalem, yang untuk selanjutnya dibagikan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan. Dan sesuai dhawuh Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) prosesi Garebeg disederhanakan, yang dimulai dari Garebeg Besar ini," ujarnya.

Abdi dalem menerima ubarampe pareden Garebeg Besar 2026. (Foto: Humas Pemda DIY)

Penyederhanaan prosesi dilakukan dengan meniadakan sejumlah agenda yang selama ini menjadi bagian dari tradisi Garebeg, baik ritual pendahulu maupun prosesi puncak yang biasa berlangsung di ruang publik. Beberapa kegiatan seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik, yang umumnya digelar tiga hari menjelang Garebeg, tahun ini tidak dilaksanakan.

Meski demikian, KRT Kusumanegara menegaskan bahwa nilai utama Garebeg sebagai simbol sedekah raja kepada rakyat tetap dipertahankan melalui pembagian ubarampe pareden, meski dilakukan secara internal di lingkungan Keraton.

Ubarampe dibagikan kepada perwakilan abdi dalem, yang untuk selanjutnya dibagikan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan. (Foto: Dok. Kawedanan Tepas Tandha Yekti)

Sebelumnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa penyederhanaan pelaksanaan Garebeg Besar merupakan bagian dari langkah penghematan anggaran. Kebijakan ini diambil untuk menyesuaikan kondisi saat pemerintah pusat maupun daerah tengah menerapkan efisiensi belanja.

"Ya penghematan aja, kabeh kan penghematan ya kan. Ya kita juga menghemat lah, prinsipnya kan gitu," ujar Sri Sultan.

Sri Sultan menyebut, biaya terbesar dalam pelaksanaan Garebeg selama ini berada pada kebutuhan logistik dan pelaksanaan kirab luar ruangan yang melibatkan banyak personel. Karena itu, penyesuaian pada bagian tersebut dianggap sebagai langkah paling realistis dalam situasi saat ini.

Abdi Dalem Tepas Tandha Yekti menerima ubarampe pareden Garebeg Besar Dal 1959 di Keraton Yogyakarta. (Foto: Dok. Dok. Kawedanan Tepas Tandha Yekti)

Terkait kemungkinan format sederhana diterapkan pada Garebeg berikutnya, Sri Sultan menegaskan kebijakan ini tidak bersifat permanen. Keraton akan melihat perkembangan kondisi ekonomi sebelum menentukan format pelaksanaan ke depan.

"Saya nggak bisa menentukan. Nanti kita lihat perkembangan kalau memang keadaan ekonominya lebih baik, ya dimunculkan lagi. Kita kan belum tahu," kata Sri Sultan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....