Ini Alasan Mengapa Generasi Muda Enggan Jadi Petani
- 01 Jul 2026 17:04 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Minat generasi muda untuk menjadi petani di wilayah Yogyakarta semakin menurun. Ini dikarenakan pendapatan petani dianggap tidak menentu dan kurang menjanjikan dibanding bekerja di sektor industri Stigma sosial di masyarakat bahwa bertani masih dipersepsikan sebagai pekerjaan kotor, tradisional dan kurang bergengsi membuat generasi muda tidak tertarik menekuni profesi sebagai Petani. Sempitnya lahan pertanian dan sulitnya mencapai hasil panen yang optimal juga menjadi penyebab kurangnya minat petani milenial di wilayah yogyakarta.
Perwakilan Komunitas Petani Milenial Yogyakarta, Taufiq Mawaddani, di acara Ngobrol Bareng Komunitas Pro 1 RRI Yogyakarta, Selasa 30 Juni 2026 mengatakan, untuk menjadi petani harus dibekali dengan ilmu pengetahuan terkait pertanian, misalnya komoditas apa yang cocok ditanam dilahan tempat tinggal mereka.
“Banyak petani milenial yang tidak fokus pada satu komoditas, tapi lebih banyak mengikuti trend, misalnya harga cabe sedang mahal, maka semua berlomba-lomba menanam cabe, begitu juga jelang idul adha, semua ikut beternak kambing”, ucapnya.
Sementara itu, Hendra mahasiswa yang sedang mengikuti program magang di yogyakarta mengemukakan, meski ia berasal dari desa dengan lahan pertanian yang masih luas, namun minat generasi muda didesanya untuk meneruskan profesi orang tua sebagai petani sangat kurang
“Di desa saya banyak lahan yang masih luas, tapi anak muda di desa saya kurang tertarik untuk jadi petani karena jadi petani tidak keren, penghasilannya juga tidak menentu”, ujarnya.
Lain lagi dengan pengalaman John, petani cabe asal maluku tenggara yang sedang menjalani studi di yogyakarta,menurutmya menjadi petani itu sangat menguntungkan.
“Siapa bilang jadi petani itu miskin, saya dikampung tanam cabe, modal saya buat beli bibit hanya 50 ribu sampai 100 ribu, tapi untungnya bisa sampai 500 ribu sampai 1 juta”, kata John.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani milenial (usia 19 - 39 tahun) di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini tercatat sebanyak 37 ribu 141 orang. Angka ini merepresentasikan sekitar 8,87% dari total populasi petani di seluruh wilayah di Yogyakarta.
Krisis regenerasi petani muda juga disebabkan faktor keluarga yang tidak mendukung. Alhasil, banyak lulusan fakultas pertanian dari berbagai kampus memilih untuk tidak menjadi petani karena lebih nyaman bekerja di kantor
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....