UGM Kembangkan Agrivoltaic untuk Wujudkan Pertanian Cerdas

  • 30 Jun 2026 16:11 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan teknologi agrivoltaic sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan. Inovasi ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan, hingga kebutuhan efisiensi penggunaan energi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, sekitar 89,54 persen lahan pertanian di Indonesia belum memenuhi standar produktivitas berkelanjutan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penggunaan bahan kimia yang berlebihan, pengolahan tanah yang kurang ramah lingkungan, pemakaian air yang tidak efisien, hingga persoalan sosial. Di sisi lain, petani juga menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.

Menjawab tantangan tersebut, Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, memperkenalkan konsep agrivoltaic yang menggabungkan pemasangan panel surya di atas lahan pertanian. Teknologi ini terinspirasi dari keberhasilan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata.

Menurut Ahmad Agus Setiawan atau yang akrab disapa Aas, teknologi tersebut kini telah diterapkan di Desa Pandowoharjo, Sleman, dan dioperasikan langsung oleh masyarakat untuk mendukung aktivitas pertanian. Ke depan, inovasi tersebut juga akan dibawa oleh mahasiswa UGM melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di berbagai daerah.

“Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat. Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat,” ucapnya dalam Seminar Internasional yang bertajuk 'Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia' di Fakultas Teknik UGM.

Pengembangan agrivoltaic dilakukan bersama Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho. Menurut Bayu, konsep smart farming yang dikembangkan bertumpu pada tiga komponen utama, yakni Management Information System (MIS), pertanian presisi (precision agriculture), serta optimalisasi teknologi dan robotik.

Penerapan teknologi tersebut memungkinkan petani memperoleh informasi secara real-time mengenai kondisi lahan sehingga keputusan budidaya dapat dilakukan dengan lebih tepat.

“Makanya dengan smart farming itu akan memudahkan kita dalam mendapatkan informasi melalui sensor yang dipasang. Seperti, tanah di sini itu kekurangan pupuk N, oleh karenanya yang diberikan adalah pupuk N bukan malah diberikan pupuk K,” ucapnya.

Bayu menjelaskan, penerapan sistem pertanian cerdas di lahan terbuka memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan di dalam greenhouse karena dipengaruhi perubahan cuaca. Oleh sebab itu, penelitian yang dilakukan juga mengintegrasikan penggunaan drone pemantau, drone penyemprot, sensor cuaca, serta sensor tanah portabel untuk memberikan data kebutuhan tanaman secara akurat.

Sementara itu, Direktur Solar Research Institute (SRI) Malaysia, Prof. Nofri Yenita Dahlan, membagikan pengalaman penerapan agrivoltaic melalui pemanfaatan solar farm berskala besar. Menurutnya, sistem tersebut mampu menekan biaya listrik sekaligus mendukung aktivitas pertanian.

Melalui penanaman tanaman penutup tanah di bawah panel surya serta pemanfaatan listrik dari panel surya untuk mengoperasikan sistem pengendalian lingkungan pada budidaya tomat ceri, efisiensi energi dapat ditingkatkan.

Ya jadi dalam situasi ini solar dapat membantu untuk mengurangi penggunaan elektrik tadi,” katanya.

Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. dr. Rustamadji, berharap inovasi tersebut dapat diterapkan lebih luas melalui program KKN UGM di berbagai wilayah Indonesia.

Menurutnya, pengabdian masyarakat tidak hanya sebatas menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kesiapan masyarakat agar mampu mengelola dan memanfaatkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.

“Penerapan teknologi tepat guna di masyarakat diharapkan tidak sekedar membawa teknologi, tetapi bagaimana menyiapkan masyarakat, kemudian membuat ekosistem yang mendukung untuk terselenggaranya teknologi tersebut,” katanya.

Melalui pengembangan agrivoltaic, UGM berharap lahir model pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan energi dan sumber daya, sekaligus mampu mendukung terwujudnya ketahanan pangan, energi, dan air secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....