Ratusan Petani Hutan Gunungkidul Ikuti Pelatihan Silvikultur Jati di Wanagama

  • 15 Sep 2026 12:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul – Lebih dari 100 petani hutan yang tergabung dalam berbagai Kelompok Tani Hutan (KTH) Kabupaten Gunungkidul mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanagama I. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 11 September 2026 ini juga diikuti oleh anggota JAVLEC sebagai pendamping lapangan.

Pelatihan berfokus pada teknik perbanyakan vegetatif dan pengelolaan tegakan jati ini merupakan kolaborasi antara International Tropical Timber Organization (ITTO), Kementerian Kehutanan, dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) guna mendorong peningkatan produktivitas hutan rakyat.

Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Ade Mukadi menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari implementasi proyek ITTO yang mencakup empat kegiatan utama, yakni sertifikasi, pelatihan silvikultur jati, agroforestri, serta penatausahaan hutan.

“Pendekatan komprehensif ini bertujuan mengembangkan potensi hutan rakyat dalam penyediaan bahan baku kayu, sekaligus memberikan jaminan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” katanya di Gunungkidul.

Ade menyoroti tantangan penanaman jati di area hutan rakyat yang masih berhadapan dengan masalah kualitas bahan tanaman, penguasaan teknik perbanyakan, tata kelola persemaian, hingga manajemen pengelolaan tegakan yang belum ideal untuk menghasilkan produk kayu bernilai tinggi.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Kehutanan UGM Widiyatno menyambut positif terselenggaranya pelatihan ini.

“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi bekal praktis bagi petani tentang bagaimana mengembangkan tanaman jati dengan lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur KHDTK Wanagama I Johanes Pramana Gentur Sutapa merefleksikan sejarah Wanagama yang berhasil merehabilitasi lahan kritis bebatuan menjadi hutan lebat. Ia mengingatkan pentingnya dimensi ekologis dari profesi petani hutan.

“Selain diharapkan mendapatkan produk hasil hutan secara ekonomi, para petani juga memiliki peran mulia. Melalui pohon-pohon yang ditanam, Bapak dan Ibu sejatinya sedang memberikan sedekah oksigen bagi kehidupan,” ucapnya.

Dalam pelatihan ini, para peserta mendapatkan pembekalan teori mengenai persemaian dan pengelolaan tegakan jati dari para akademisi UGM, yakni Sawitri dan Rika Bela Rahmawati.

Sesi dilanjutkan dengan praktik langsung di lapangan, meliputi kunjungan ke kebun pangkas untuk mempraktikkan teknik pemanenan pucuk dan penanaman bedengan (shading area), serta manajemen pemangkasan cabang (pruning) langsung di area tegakan Jati Mega Wanagama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....