Mahasiswa UGM Kembangkan Sandal Pintar Pantau Kaki Diabetik
- 15 Sep 2026 14:03 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Glucowrap, sandal pintar yang dirancang untuk membantu mendeteksi lebih dini perubahan kondisi kaki pada penderita Diabetes Melitus (DM) tipe 2 yang mengalami gangguan saraf.
Inovasi yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tersebut telah menjalani pengujian kelayakan dan keamanan pada pasien DM tipe 2 di Klinik Korpagama, Yogyakarta.
Glucowrap hadir dalam bentuk sandal terbuka yang dilengkapi sejumlah sensor untuk memantau kondisi kaki saat digunakan. Sensor tersebut dapat mengukur tekanan, suhu, dan kelembapan pada kaki.
Data hasil pemantauan kemudian diolah dan diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yakni normal, risiko ringan, dan risiko tinggi. Hasilnya dapat dipantau secara langsung melalui aplikasi pada ponsel sehingga pengguna dapat mengetahui perubahan kondisi kaki yang perlu mendapat perhatian.
Glucowrap dikembangkan oleh lima mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Mereka yakni Rina Putri Cahyati dari Ilmu Keperawatan sebagai ketua tim, Hanif Abinawa dari Elektronika dan Instrumentasi, Mohammad Latif Ananda dari Program Studi Teknologi Rekayasa Elektro, Dhimas Early Oceandy dari Ilmu Komputer, serta Ulfan Syarif dari Kehutanan.
Tim tersebut berada di bawah pendampingan Ir. Ma’un Budiyanto. Pengembangan Glucowrap juga mendapat pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) melalui skema PKM bidang Karsa Cipta.

Ketua Tim Glucowrap, Rina Putri Cahyati mengatakan, inovasi tersebut dikembangkan karena tingginya risiko luka kaki diabetik pada penyandang diabetes. Neuropati perifer yang dialami penderita dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas pada kaki, sehingga tekanan, gesekan, maupun perubahan kondisi kaki terkadang tidak disadari.
“Neuropati perifer dapat menurunkan sensitivitas pada kaki sehingga penderita terkadang tidak menyadari adanya tekanan, gesekan, atau perubahan pada kondisi kaki. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius,” ungkapnya, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Rina, Glucowrap tidak hanya dirancang sebagai perangkat pemantauan, tetapi juga mempertimbangkan aspek kenyamanan selama digunakan oleh pasien.
“Kami ingin Glucowrap tidak berhenti sebagai alat pemantau saja, tetapi juga membantu pasien mengenali kondisi kakinya lebih dini sekaligus memberikan kenyamanan melalui fitur pendukung yang ada di dalamnya,” ujarnya.
Dari sisi material, Glucowrap menggunakan biotekstil berbahan serat bambu yang diproses dengan kitosan pada bagian yang bersentuhan langsung dengan kulit. Material tersebut dikembangkan sebagai lapisan antibakteri sekaligus untuk membantu menjaga kondisi kaki pengguna.
Sandal pintar ini juga dilengkapi fitur stimulasi thermal dan mikrovibrasi dengan intensitas rendah sebagai pendukung kenyamanan selama penggunaan.
Dalam proses pengujian, pasien terlebih dahulu menjalani skrining menggunakan monofilamen Semmes-Weinstein 10 gram. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat sensitivitas kaki sesuai dengan kriteria penelitian.
Pasien kemudian menggunakan Glucowrap dan menjalani uji berjalan selama 15 menit. Selama proses tersebut, sensor merekam berbagai data kondisi kaki.
Tim juga melakukan pengujian terhadap fitur thermal dan mikrovibrasi, memeriksa kondisi kulit kaki setelah penggunaan, serta meminta pasien mengisi kuesioner terkait kenyamanan dan kemudahan penggunaan perangkat maupun aplikasi.
Pengujian Glucowrap mendapat dukungan dari Klinik Korpagama melalui penyediaan fasilitas dan penjaringan pasien yang memenuhi kriteria penelitian.
Sementara itu, protokol penelitian yang digunakan telah memperoleh kelaikan etik dari Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Hasil pengujian akan digunakan Tim Glucowrap sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan purwarupa. Evaluasi mencakup desain perangkat, kenyamanan pengguna, hingga kinerja sensor.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan sebelum Glucowrap memasuki pengujian dan pengembangan lebih lanjut.
Meski demikian, Rina menegaskan Glucowrap masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Perangkat tersebut belum ditujukan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis.
“Glucowrap saat ini masih kami kembangkan dan belum dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Perangkat ini kami rancang hanya sebagai alat bantu untuk memantau kondisi kaki,” ujarnya.
Ke depan, Tim Glucowrap berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan menjadi perangkat yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan. Dengan demikian, penyandang diabetes dapat terbantu dalam memantau kondisi kaki dan mengenali potensi masalah sejak dini.
“Kami berharap Glucowrap bisa terus dikembangkan agar nantinya dapat menjadi perangkat yang praktis dan mudah digunakan, sekaligus membantu penyandang diabetes lebih sadar terhadap kondisi kaki dan melakukan perawatan sejak dini,” kata Rina.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....