Labuhan Pakualaman, Merawat Harmoni Alam dan Warisan Budaya

  • 28 Jun 2026 00:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo — Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman kembali diselenggarakan di Pantai Glagah, Kulon Progo, Jumat, 26 Juni 2026. Tradisi yang digelar sebagai ungkapan syukur atas karunia kehidupan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam demi keberlanjutan kehidupan.

Kirab gunungan hasil bumi dan prosesi labuhan yang berlangsung khidmat menyimpan pesan luhur tentang keseimbangan antara manusia, budaya, dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut telah diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari tradisi adiluhung Kadipaten Pakualaman sejak masa KGPAA Paku Alam II.

Labuhan yang diperingati setiap 10 Sura dalam penanggalan Jawa bukan sekadar seremoni budaya. Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini mengandung makna spiritual, sosial, sekaligus ekologis yang mengajarkan bahwa manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta.

Tahun ini, prosesi kembali dilaksanakan di Pantai Glagah, Temon, Kulon Progo, yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Kadipaten Pakualaman. Rangkaian acara diawali dari Pesanggrahan Glagah, bangunan bersejarah yang didirikan pada masa KGPAA Paku Alam V sebagai tempat persinggahan keluarga Pakualaman ketika berkunjung ke kawasan pesisir selatan.

Dari lokasi tersebut, lima ancak berisi gunungan hasil bumi beserta ubarampé diarak menuju Pantai Glagah. Kirab dipimpin GPH Wijoyo Harimurti dan GPH Indrokusumo, didampingi para pendherek yang terdiri atas BRAy Indrokusumo, KRMT Kusumo Aminoto, dan KRMT Suryo Kusumo Hadiwijoyo bersama Sedherek Dalem, Sentana Dalem, serta Abdi Dalem Kadipaten Pakualaman.

Arak-arakan berlangsung dengan iringan pasukan bregada, tombak pusaka, alunan suling, serta tabuhan musik tradisional Jawa. Suasana sakral yang tercipta menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang memadati kawasan Pantai Glagah sejak pagi.

Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi budaya masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial. Selain mempererat hubungan masyarakat dengan warisan budaya, kegiatan ini juga menjadi media pelestarian nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Gunungan yang dibawa dalam kirab berisi padi, palawija, buah-buahan, sayuran, hingga jajanan tradisional. Seluruh hasil bumi tersebut melambangkan karunia Tuhan yang diberikan melalui alam. Filosofi tersebut menjadi inti pelaksanaan Labuhan, yakni mengajarkan manusia untuk senantiasa bersyukur sekaligus menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan.

Bagi Kadipaten Pakualaman, Labuhan bukan hanya penanda datangnya Tahun Baru Jawa, tetapi juga menjadi momentum merefleksikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Hajad Dalem Labuhan yang digelar pada Jumat Wage, 10 Sura Be 1960 merupakan wujud syukur atas segala nikmat kehidupan sekaligus doa agar Kadipaten Pakualaman dan masyarakat senantiasa memperoleh keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan.

Makna tersebut tercermin melalui berbagai ubarampé yang dilabuhkan ke laut, seperti payung kebesaran, ageman KGPAA Paku Alam X, permaisuri dan para putra, beragam jenis kain, pareden rajakaya, tuwuhan pala kapendhem, pala kasimpar, pala gumantung, pareden pari, sanggan, degan, hingga aneka jenang. Dalam filosofi Jawa, setiap unsur tersebut melambangkan doa untuk kesuburan, kemakmuran, keselamatan, dan keharmonisan kehidupan.

Pangarsa Panyarikan Kapanitran Kadipaten Pakualaman, KMT Sestrodiprojo, menegaskan Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman merupakan simbol rasa syukur sekaligus ikhtiar menjaga keseimbangan alam yang menjadi penopang kehidupan manusia.

"Labuhan ini untuk keseimbangan alam. Padi dan palawija merupakan sumber kehidupan manusia. Apa yang sudah disediakan alam kita syukuri dan kita buang jauh sukerta atau hal-hal yang tidak baik ke segara," ujarnya.

Antusiasme masyarakat mengambil gunungan hasil bumi beserta ubarampé yang diarak menuju Pantai Glagah. (Foto: Dok. Pakualaman)

Setibanya di bibir pantai, doa bersama dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi masyarakat maupun para pemimpin. Setelah itu, sejumlah abdi dalem melabuhkan ageman dalem milik keluarga besar Pakualaman ke laut sebagai simbol penyucian diri, pelepasan hal-hal buruk, dan harapan menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, ancak berisi hasil bumi ditempatkan di tepi pantai. Saat ombak pertama menyentuh gunungan, warga dan wisatawan langsung merayah isi gunungan. Padi, palawija, buah-buahan, hingga jajanan tradisional diperebutkan karena dipercaya membawa berkah dan harapan baik.

Tradisi rayahan menjadi penutup rangkaian Labuhan. Selain melambangkan kembalinya hasil bumi kepada masyarakat, prosesi ini juga mengajarkan pentingnya berbagi, mempererat kebersamaan, serta menjaga kelestarian alam sebagai penopang kesejahteraan bersama.

Pantai Glagah sebagai lokasi pelaksanaan Labuhan juga memiliki nilai historis bagi Kadipaten Pakualaman. Keberadaan Pesanggrahan Glagah menjadi bukti hubungan erat antara Kadipaten Pakualaman dengan kawasan pesisir Kulon Progo yang telah terjalin sejak masa lampau.

Lebih dari sekadar tradisi, Labuhan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini, nilai-nilai yang diwariskan melalui tradisi ini semakin relevan sebagai ajakan untuk merawat bumi dengan rasa hormat, tanggung jawab, dan kesadaran bersama.

Melalui Hajad Dalem Labuhan, Kadipaten Pakualaman terus melestarikan warisan budaya yang tidak hanya menjaga identitas DIY, tetapi juga menanamkan nilai syukur, kebersamaan, serta keselarasan alam sebagai fondasi kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....