Batu Gamping Festival #2 Padukan Konservasi Alam dan Tradisi Bekakak

  • 15 Jul 2026 14:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bersiap menyelenggarakan Batu Gamping Festival #2 pada 16–17 Juli 2026. Acara ini akan berpusat di kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam (CA/TWA) Batu Gamping, Ambarketawang, Gamping, Kabupaten Sleman.

Mengusung tema "Meruwat Tradisi, Merawat Konservasi", festival ini menjadi langkah strategis untuk mengenalkan wisata konservasi Yogyakarta melalui perpaduan edukasi, pelestarian budaya, dan pariwisata.

Kawasan CA/TWA Batu Gamping memiliki nilai penting sebagai situs batuan gamping purba bersejarah. Selain menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, kawasan ini juga merupakan ruang hidup bagi tradisi lokal masyarakat Ambarketawang. Melalui festival tahunan ini, Balai KSDA Yogyakarta ingin mendekatkan konsep pelestarian alam kepada masyarakat lewat berbagai aktivitas yang edukatif dan kultural.

Beragam agenda menarik akan memeriahkan Batu Gamping Festival #2. Di antaranya adalah Lomba Jemparingan (panahan tradisional Mataraman), Lomba Menggambar dan Mewarnai untuk anak-anak, Gendu-Gendu Rasa Konservasi (sarasehan), Pameran Konservasi, Senam Bersama, hingga promosi produk UMKM serta jasa dari mitra konservasi. Seluruh rangkaian acara dirancang sebagai sarana edukasi lingkungan sekaligus rekreasi keluarga.

Pelajar taman kanak-kanak mengikuti rangkaian kegiatan edukasi konservasi pada Batu Gamping Festival tahun lalu di kawasan CA/TWA Batu Gamping, Ambarketawang, Sleman. Kegiatan tersebut mengajak anak-anak mengenal pentingnya pelestarian alam sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini melalui berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif. (Foto: BKSDA Yogyakarta)

Keunikan utama festival tahun ini terletak pada kolaborasinya dengan Upacara Adat Bekakak. Tradisi masyarakat Ambarketawang ini telah dilaksanakan secara turun-temurun setiap tahunnya. Rangkaian ritual adat dimulai dari pembuatan boneka pengantin Bekakak dari tepung ketan, pengambilan air suci, doa bersama (midodareni), hingga kirab budaya yang meriah.

Puncak prosesi berupa penyembelihan boneka Bekakak tetap dilaksanakan di kawasan CA/TWA Batu Gamping. Kolaborasi ini menjadi simbol nyata bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan beriringan secara selaras dengan upaya menjaga kawasan konservasi alam.

Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Darmanto, menegaskan bahwa Batu Gamping Festival merupakan bentuk pendekatan konservasi yang melibatkan masyarakat secara aktif. Menurutnya, keberhasilan perlindungan alam sangat bergantung pada kepedulian warga sekitar.

"Konservasi akan berhasil apabila masyarakat menjadi bagian di dalamnya. Melalui Batu Gamping Festival, kami ingin memperkenalkan bahwa CA/TWA Batu Gamping bukan hanya kawasan yang menyimpan kekayaan geologi dan keanekaragaman hayati, tetapi juga ruang hidup bagi tradisi dan budaya yang terus dilestarikan. Inilah wujud harmoni antara manusia, alam, dan budaya yang perlu terus dijaga bersama," ujar Darmanto.

Melalui gelaran Batu Gamping Festival #2, Balai KSDA Yogyakarta berharap salah satu cagar alam tertua ini semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata konservasi unggulan di Sleman. Festival ini juga diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisata yang berkualitas, memperkuat roda perekonomian masyarakat lokal, sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian alam dan budaya secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....