Sri Sultan: Pelayanan Kesehatan Harus Utamakan Pencegahan dan Deteksi Dini
- 27 Jul 2026 06:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tenaga medis dalam mengobati penyakit. Menurutnya, upaya pencegahan, deteksi dini, dan menjangkau masyarakat sebelum penyakit berkembang menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sri Sultan saat membuka Kongres Nasional & Pertemuan Ilmiah Nasional (KONAS & PIN) Tahun 2026 yang mempertemukan tiga organisasi profesi kedokteran, yakni Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI), Sabtu, 25 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di The Alana Hotel & Convention Center itu mengangkat tema Challenges and Innovations in Gastroenterohepatology: From Research to Clinical Practice.
Dalam sambutannya, Sri Sultan mengatakan tantangan penyakit hati dan saluran pencernaan masih menjadi perhatian serius. Selain penyakit menular seperti hepatitis, perubahan pola hidup, konsumsi makanan yang kurang sehat, minimnya aktivitas fisik, obesitas, serta diabetes turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Ia menilai banyak penyakit berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga sering terlambat terdeteksi.
“Ketika gejala mulai dirasakan, kondisi sering kali telah menjadi lebih berat. Karena itu, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengobati, melainkan juga ditentukan oleh kemampuan mencegah, menemukan penyakit lebih awal, dan menjangkau masyarakat sebelum keadaan terlambat. Di sinilah kemajuan teknologi memperoleh tempatnya,” kata Sri Sultan.
Sri Sultan menilai perkembangan sistem digital dan kecerdasan buatan mampu membantu dokter menganalisis hasil pemeriksaan dengan lebih akurat. Namun demikian, teknologi tidak dapat menggantikan pertimbangan klinis yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, pengalaman, etika, kehati-hatian, dan empati seorang dokter.
“Sebab pasien bukan sekumpulan angka. Di hadapan dokter selalu berdiri manusia dengan riwayat hidup, kecemasan, keluarga, dan harapan untuk kembali sehat. Teknologi dapat memperkuat kemampuan diagnosis, tetapi tanggung jawab klinis tetap berada pada manusia,” ujar Sri Sultan.
Ia juga mengaitkan konsep kesehatan dengan filosofi Jawa mengenai waras, yang dimaknai sebagai keseimbangan antara kondisi fisik, pikiran, batin, dan lingkungan. Menurutnya, ketika keseimbangan tersebut terganggu, dunia kedokteran memiliki peran untuk memulihkan harmoni kehidupan.
“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan masyarakat, saya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta, termasuk para ahli yang hadir dari berbagai daerah dan negara. Yogyakarta menyambut forum ini dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana. Merawat keselamatan, memulihkan keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan kehidupan,” ucap Sri Sultan.
Sri Sultan menambahkan, forum ilmiah tersebut memiliki nilai strategis karena kemajuan ilmu kedokteran lahir dari kolaborasi antara penelitian, pengalaman klinis, dan kebutuhan nyata pasien. Menurutnya, hasil riset perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, pedoman pelayanan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta pemerataan akses layanan kesehatan.
“Saya berharap kongres ini melahirkan rekomendasi yang dapat dilaksanakan. Pencegahan perlu diperkuat; pemeriksaan dini harus diperluas; dan kemampuan diagnosis dan pengobatan harus terus ditingkatkan. Kolaborasi lintas disiplin juga perlu dibangun agar kemajuan ilmu benar-benar hadir sebagai manfaat bagi masyarakat. Semoga dari Yogyakarta lahir gagasan yang memperkuat ilmu kedokteran Indonesia, sekaligus memuliakan martabat setiap pasien,” kata Sri Sultan.
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM, menyampaikan beban penyakit hati kronis di Indonesia masih tergolong tinggi. Karena itu, PPHI terus mendorong berbagai strategi berbasis bukti untuk mendukung target eliminasi hepatitis pada 2030.
“Kami di PPHI berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan berbasis bukti, di antaranya, mulai dari optimalisasi skrining hepatitis B pada ibu hamil hingga pengenalan teknologi diagnostik baru seperti biomarker PIVKA-II untuk deteksi dini kanker hati. Acara ini pun menjadi langkah konkret untuk mempercepat eliminasi hepatitis 2030,” ujar dr. Andri.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana KONAS & PIN PPHI-PGI-PEGI Yogyakarta 2026, dr. Putut Bayupurnama, SpPD, K-GEH, FINASIM, mengatakan konferensi tersebut dirancang sebagai forum ilmiah yang membahas perkembangan riset sekaligus kebijakan kesehatan nasional. Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti lebih dari 20 sesi ilmiah, termasuk workshop berbasis simulasi dan demonstrasi prosedur intervensi terkini.
“Tujuan kami adalah memastikan setiap peserta, baik dokter spesialis maupun umum, pulang dengan pengetahuan terbaru yang dapat diaplikasikan langsung untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pasien,” ujar dr. Putut.
Forum ilmiah ini juga menghadirkan sejumlah pakar internasional, di antaranya Prof. Shuichiro Shiina dari Jepang, Prof. Kenichi Ikejima dari Jepang, serta Prof. Raja Affendi Raja Ali dari Malaysia. Kehadiran para narasumber diharapkan memperluas wawasan peserta mengenai praktik terbaik dunia sekaligus memperkuat kolaborasi riset lintas negara.
Penyelenggaraan KONAS & PIN PPHI-PGI-PEGI 2026 menjadi bentuk sinergi antara akademisi, klinisi, dan pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan nasional. Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Gabungan PPHI-PGI-PEGI Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Departemen/KSM Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada serta RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ini diharapkan mampu menjembatani hasil riset dengan implementasi praktik klinis, khususnya dalam penanganan penyakit gastroenterohepatologi yang semakin kompleks.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....