Hening di Titik Nol, Enam Agama Satukan Doa untuk Indonesia Bebas Narkoba
- 26 Jun 2026 17:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Suasana berbeda menyelimuti kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, pada Kamis malam 25 Juni 2026. Riuh kendaraan yang masih melintas seolah berpadu dengan keheningan puluhan pegawai Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta yang berdiri dalam satu barisan. Di depan Istana Kepresidenan Yogyakarta, mereka berkumpul bukan untuk seremoni, melainkan untuk menyalakan empati.
Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026, BNNP DIY menggelar Malam Renungan dan Doa Lintas Agama sebagai bentuk keprihatinan atas masih besarnya ancaman penyalahgunaan narkotika yang terus merenggut masa depan masyarakat.
Melalui malam renungan ini, seluruh peserta diajak menumbuhkan empati, memperkuat solidaritas, sekaligus membangun komitmen bahwa pencegahan dan pemberantasan narkoba bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat penegak hukum. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika. Perbedaan agama dan keyakinan yang hadir pada malam itu justru menjadi simbol persatuan.
Kepala BNNP DIY, Faried Zulkarnain, dalam sambutannya mengingatkan bahwa setiap peringatan Hari Anti Narkotika Internasional selalu membawa pesan kemanusiaan yang mendalam.
"Di balik setiap angka statistik penyalahgunaan narkotika. Ada anak yang kehilangan masa depannya, ada orang tua yang kehilangan harapan, ada keluarga yang harus berjuang memulihkan apa yang telah retak. Karena itu, malam renungan ini menjadi ruang bagi kita untuk kembali menyalakan empati sebelum melangkah lebih jauh dalam tugas dan pengabdian sebagai pegawai BNN," katanya.
Suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta mengikuti One Minute of Silence yang dipimpin langsung oleh Kepala BNNP DIY. Kepala tertunduk, semua larut dalam hening. Doa dipanjatkan dalam hati untuk mengenang mereka yang telah menjadi korban penyalahgunaan narkotika, sekaligus sebagai pengingat bahwa masih banyak keluarga yang tengah berjuang menghadapi dampaknya.
Puncak kegiatan ditandai dengan doa lintas agama yang dipimpin secara bergantian oleh pemuka agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, terselip harapan yang sama agar Indonesia mampu melahirkan generasi yang sehat, kuat, dan terbebas dari ancaman narkotika. Meski berasal dari keyakinan yang berbeda, seluruh doa malam itu bermuara pada satu cita-cita yang sama, yakni menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan menyelamatkan masa depan bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....