Pentingnya Menjaga Hati dari Sifat Tamak Berlebihan

  • 24 Jun 2026 08:01 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sifat serakah atau tamak dan tidak pernah merasa puas masih menjadi sifat yang sering dijumpai di tengah masyarakat. Menurut Ustadz H. Ahmad Masrusi SAg, penyuluh agama dari Kemenag DIY dalam acara Siraman Rohani Islam PRO 4 RRI Yogyakarta mengatakan pentingnya setiap individu untuk introspeksi diri dan membentengi hati dari sifat serakah atau tamak ini. Tamak Adalah sifat rakus atau serakah terhadap dunia secara berlebihan.

Ia menyebut satu kaidah yang memberi pelajaran spiritual yang mendalam, bahwa suatu amal tidak dapat dinilai sedikit atau kecil jika lahir dari hati yang zuhud yakni bersahaja dan tidak terikat dunia secara berlebihan. Sebaliknya, amal yang terlihat banyak atau besar bisa menjadi tidak berarti jika bersumber dari hati yang penuh dengan sifat tamak.

Menurutnya seseorang yang telah memiliki sifat zuhud, cenderung mengumpulkan dan membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan mendasar, bukan sekadar menuruti hawa nafsu. Ustadz Masrusi menganalogikan kondisi batin itu seperti orang yang sudah kenyang, seseorang yang sudah merasa cukup dan kenyang tentu tidak akan lagi bernafsu mengejar makanan lain, meskipun makanan tersebut terlihat sangat lezat dan nikmat.

Ia menekankan bahwa esensi dari ajaran Islam adalah kepasrahan total atau tawakal dan menghadapkan diri kepada Allah SWT. Adab batiniah, keyakinan hati yang kukuh, serta keikhlasan dalam menerima ketentuan-Nya merupakan modal utama untuk mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang sejati.

Dengan menjaga kesucian hati dari sifat serakah, setiap individu diharapkan dapat merasakan kelapangan dada, keringanan beban hidup, dan kebahagiaan batin yang tulus. Ia menyebut sebagai seorang muslim semestinya senantiasa menjaga kebersihan hati agar tidak kehilangan semangat hidup dan terhindar dari perkara-perkara yang buruk. Ustadz masrusi mengatakan landasan utama dari setiap ibadah adalah kepasrahan dan niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT.

Bahkan dalam sebuah hadist disampaikan bahwa niat seorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya, karena dari niat yang baiklah sebuah perbuatan dinilai. Ustadz Masrusi juga mengutip kaidah fikih niat merupakan maksud atau kesengajaan yang dibersamai dengan perbuatan.

Sifat zuhud atau ketidakbergantungan pada urusan duniawi akan bisa mendatangkan pahala dan efek batin yang jauh lebih besar dan membawa ketenangan pada jiwa seorang muslim. Dalam akhir pemaparannya, Ustadz Masrusi berpesan agar dalam hubungan sosial maupun spiritual, tidak berharap pada pemberian manusia melainkan mengembalikan segala urusan dan berserah diri secara tulus hanya kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....