Enam Padukuhan di Kulon Progo Raih Penghargaan Lingkungan Hidup Sedunia

  • 18 Jun 2026 16:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo – Sebanyak enam padukuhan di Kulon Progo menerima penghargaan lingkungan pada Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat DIY Tahun 2026. Penghargaan berupa Piagam Program Kampung Iklim (ProKlim) dan Kampung Tangguh Iklim tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam X, di Bangsal Kepatihan Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Keberhasilan ini menjadi bukti komitmen Kulon Progo untuk terus mengembangkan Program Kampung Iklim sejak lebih dari satu dekade lalu. Enam padukuhan tersebut dinilai berhasil memberi solusi atas perubahan iklim global mampu diinisiasi dan diwujudkan melalui aksi nyata, gotong royong, serta partisipasi aktif di tingkat masyarakat bawah.

Adapun enam padukuhan berprestasi tersebut adalah Padukuhan Segajih (Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap) yang meraih penghargaan ProKlim. Sementara lima wilayah lainnya meraih penghargaan Kampung Tangguh Iklim, yakni Padukuhan Banyunganti Kidul (Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo), Padukuhan Kroco (Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih), Padukuhan Graulan (Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates), Padukuhan Klewonan (Kalurahan Triharjo, Kapanewon Wates), dan Padukuhan Kembang (Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo, Duana Heru Supriyanta, memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, esensi dari Proklim bukan sekadar meraih trofi atau piagam, melainkan dampak jangka panjang terhadap kemandirian warga dalam merawat bumi.

"Piagam ini sebuah simbol. Namun yang paling penting dan utama adalah terbangunnya karakteristik masyarakat yang tangguh, mandiri, serta mampu menjaga lingkungannya secara berkelanjutan," ujarnya.

Duana juga menekankan pentingnya menyelaraskan aspek ekologi dengan kesejahteraan ekonomi warga, sebagaimana yang telah diterapkan oleh padukuhan-padukuhan penerima penghargaan.

"Kampung yang hebat bukan sekadar kampung yang paling banyak memperoleh penghargaan, tetapi kampung yang mampu konsisten menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengangkat kesejahteraan warga di dalamnya," katanya.

Secara umum, lanjut Duana, enam padukuhan ini dinilai unggul dalam aspek konservasi lingkungan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, ketahanan pangan, pelestarian sumber daya alam, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Salah satu contoh, di Padukuhan Kembang yang sukses memadukan ketangguhan bencana dengan pengembangan ekonomi lokal melalui komoditas kopi dan kakao. Keberhasilan di lapangan ini digerakkan oleh tokoh-tokoh lokal.

Sugiyanto selaku penggerak dari Padukuhan Kroco mengatakan, kunci keberhasilan di tingkat tapak adalah melestarikan budaya gotong royong dengan melibatkan peran aktif seluruh warga.

"Seluruh warga terlibat dalam kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Dampak yang kini dirasakan warga, seperti lingkungan yang lebih bersih, sumber air terjaga, dan ketahanan bencana yang lebih baik," ujar Sugiyanto.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kulon Progo, Triyono, menambahkan bahwa prestasi ini membuktikan masyarakat Kulon Progo mampu menjadi pelaku utama dalam menjaga lingkungan.

"Ketika gotong royong tumbuh, perubahan besar dapat diwujudkan dari tingkat padukuhan," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....