Tim Peneliti UGM Temukan Residu PVC di Titik Kebakaran ‘Rumah Api’ Seyegan
- 15 Jun 2026 07:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Penelitian fenomena api misterius yang terjadi di rumah warga Seyegan, Kabupaten Sleman, memasuki babak baru. Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) memastikan sumber api bukan berasal dari rembesan gas alam dari bawah permukaan tanah.
Dalam penelitian lanjutan, tim menemukan residu resin poly vinyl chloride (PVC) pada sejumlah titik kebakaran yang menjadi petunjuk penting dalam mengungkap sumber munculnya api. Anggota Tim PKPE FT UGM dari Departemen Teknik Geologi, Prof. Sarju Winardi, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari analisis sampel yang diambil pada dinding, tripleks, dan kayu di lokasi kejadian yang pernah mengalami kebakaran.
Berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan, resin PVC diduga berasal dari material yang sebelumnya bercampur pada pelarut (solvent) yang mudah menguap dan terbakar. Menurut Sarju, saat solvent menguap, material tersebut dapat menghasilkan gas hidrogen klorida yang kemudian terdeteksi sebagai gas hidrogen pada pengukuran awal. Sementara itu, sisa materialnya tertinggal dalam bentu residu PVC di lokasi kejadian.
“Kami tidak menyimpulkan bahwa itu terpantik sendiri. Kami hanya menyimpulkan ada materi itu, sehingga kami sampaikan kembali bahwa sumber apinya bukan gas alami, tetapi materi yang di dalamnya ada resin poly vinyl chloride atau PVC. Dan zat pelarut itulah yang menjadi sumber api,” kata Sarju, Sabtu, 13 Juni 2026.
Sarju menambahkan, resin PVC hanya ditemukan pada titik-titik yang pernah terbakar dan tidak dijumpai di area rumah yang tidak terdampak api. Karena itu, tim menilai temuan tersebut bersifat lokal dan tidak menyebar ke seluruh bagian rumah.
Sementara itu, anggota tim peneliti lainnya, Prof. Leni S Heliani, menjelaskan bahwa seluruh penelitian difokuskan pada rumah yang menjadi lokasi munculnya api. Tim bahkan memetakan denah bangunan dan titik-titik kebakaran untuk memastikan pola kemunculan api di dalam rumah tersebut.
Meski pengukuran lingkungan dilakukan hingga radius sekitar 200 meter menggunakan citra thermal dan pemetaan bawah permukaan, tidak ditemukan indikasi fenomena serupa di rumah-rumah sekitar.
“Mengapa kami berfokus pada area rumah tersebut, karena berdasarkan hasil penelitian, kami mencoba membuat denah rumah dan kemudian kami menetapkan titik-titik api hanya ditemukan di rumah itu. Tidak ada kemudian ditemukan di luar atau rumah tetangga,” ujar Leni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....