Diskoma UGM Soroti Gaya Hidup Sehat Generasi Muda di tengah Era Banjir Informasi
- 12 Jun 2026 10:33 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Derasnya arus informasi kesehatan di media sosial menjadi tantangan baru bagi generasi muda. Di satu sisi, akses terhadap informasi kesehatan semakin mudah. Namun di sisi lain, melimpahnya informasi yang belum tentu benar justru berpotensi membentuk perilaku yang kurang sehat dan melemahkan kemampuan berpikir kritis.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Diskusi Komunikasi Magister Universitas Gadjah Mada (Diskoma) edisi ke-30 bertajuk Healthy or Trendy? Pengaruh Komunikasi Kesehatan terhadap Lifestyle Generasi Muda yang digelar di Auditorium Mandiri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Sabtu, 6 Juni 2026. Diskusi ini turut dihadiri 85 peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, mahasiswa hingga pelajar. Berbagai isu lainnya juga dibahas seperti fenomena self-diagnosis, kualitas tidur, hingga fenomena dopamine detox.
Dosen senior Departemen Ilmu Komunikasi UGM Ana Nadhya Abrar, menyebut generasi Z menghadapi risiko penurunan kapasitas kognitif akibat tingginya paparan media sosial. Menurutnya, fenomena yang dikenal sebagai brain rot itu dipicu oleh pola konsumsi konten digital yang berlebihan dan berlangsung secara terus-menerus. Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap mahasiswa, Abrar menemukan pengaruh media sosial terhadap perubahan perilaku generasi muda. Namun perubahan tersebut kerap bersifat dangkal dan tidak menyentuh aspek yang lebih substantif.
“Yang paling penting saat ini adalah Generasi Z memiliki otoritas diri. Karena media sosial sekarang mampu mengontrol dan mengawasi penggunanya, Generasi Z memerlukan kesadaran atas otoritas akan dirinya,” kata Abrar.
Dia menjelaskan algoritma media sosial, polarisasi audiens, serta rendahnya literasi media membuat pengguna lebih mudah terjebak dalam pola konsumsi informasi yang tidak kritis. Ini menjadikan generasi muda perlu memiliki kesadaran untuk menentukan sendiri informasi yang layak dipercaya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan serupa disampaikan praktisi kesehatan sekaligus kreator konten edukasi kesehatan Rianti Maharani. Rianti menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan kelebihan informasi yang membuat masyarakat kesulitan membedakan fakta dan hoaks. Menurut Rianti, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk perilaku generasi muda. Mulai dari memengaruhi persepsi hingga mendorong perubahan gaya hidup. Untuk itu, kredibilitas sumber informasi menjadi faktor penting dalam komunikasi kesehatan.
“Cara untuk meyakinkan orang lain adalah dengan meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu,” ujarnya.
Dalam paparannya, Rianti menjelaskan perubahan gaya hidup sehat tidak terjadi secara instan. Proses tersebut harus melalui tahapan pengetahuan, sikap, niat, tindakan, kebiasaan hingga akhirnya menjadi gaya hidup yang dilakukan secara konsisten.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....