Remaja dan Jebakan Judul di Dunia yang Serba Cepat "Ngak Baca tapi Komen"

  • 05 Jun 2026 06:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Fenomena penggunaan media sosial yang sangat intens membuat sebagian masyarakat lebih cepat bereaksi lewat kolom komentar daripada membaca dan memahami isi konten secara utuh. Di era serba instan, judul sering dijadikan kesimpulan, sementara kolom komentar berubah menjadi arena perdebatan antarwarganet.

Dalam program Literasi Digital di Programa 1 RRI Yogyakarta, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, Anggun Anindya Sekarningrum, menyoroti kebiasaan “tidak membaca tetapi langsung berkomentar” yang kian umum di media sosial.

“Rata-rata remaja Indonesia menghabiskan lebih dari 5 bahkan 7 jam di depan handphone untuk scrolling setiap hari. Namun, lamanya waktu di depan layar tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman terhadap konten yang dikonsumsi,” ujar Anggun.

Menurut Anggun, masyarakat diharapkan tidak berhenti pada judul, melainkan membaca dan memahami isi konten sebelum membentuk opini atau membagikannya ulang.

Kemudahan akses media digital dan media sosial, terutama di kalangan remaja, sering mendorong kebiasaan mengambil jalan pintas dengan hanya melihat judul. Kondisi ini dinilai turut berkontribusi pada penyebaran misinformasi dan hoaks.

“Korban hoaks di Indonesia cukup banyak. Bukan hanya remaja, orang tua pun banyak yang termakan hoaks di media sosial,” kata Anggun.

Di era literasi digital, judul sering dirancang untuk memicu emosi dan kedekatan psikologis dengan audiens. Ketika pembaca merasa “sudah setuju” atau “sudah marah” hanya dari judul, mereka cenderung tidak mendalami isi konten. Anggun mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat menyebabkan erosi berpikir kritis, terutama pada generasi muda yang tumbuh bersama media digital.

Kolom komentar juga kerap menjadi “ajang perang opini” karena perbedaan pandangan antarwarganet. Perdebatan yang muncul sering terjadi sebelum peserta diskusi membaca sumber asli secara lengkap.

Agar lebih bijak bermedia sosial, Anggun menyarankan pengguna untuk memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikan ulang konten.

Anggun menambahkan bahwa banyak warganet Indonesia membagikan ulang informasi bukan karena mengenal kredibilitas medianya, melainkan karena mempercayai orang yang mengomentari konten tersebut. Karena itu, pengguna media sosial diimbau lebih bijak dan hanya membantu menyebarkan ulang informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....