Gunungan Buku dan Pasar Buku Sastra Tandai Pembukaan Festival Sastra Yogyakarta

  • 24 Agt 2026 14:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pasar Buku Sastra dan prosesi gunungan buku menandai pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Minggu siang, 23 Agustus 2026. Prosesi diawali dengan arak-arakan gunungan buku dan dilanjutkan dengan rayahan gunungan yang diikuti ratusan warga. Mereka berebut berbagai judul buku yang ditata menyerupai hasil bumi dalam gunungan sekaten.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan, gunungan buku memiliki makna bahwa pengetahuan merupakan sumber kehidupan. Jika pangan menjadi sumber kehidupan bagi tubuh, buku menghidupi pikiran dan jiwa.

"Ketika hari ini buku kita hadirkan sebagai gunungan, kita ingin mengingatkan bahwa pengetahuan juga merupakan sumber kehidupan. Jadi kalau kita bicara pangan menghidupi raga, maka sebenarnya kita bicara buku menghidupi pikiran dan jiwa kita semuanya," ujarnya.

Usai prosesi gunungan buku, dilakukan penyerahan simbolis panji atau bendera FSY dari Yetti Martanti kepada kurator FSY 2026 Paksi Raras Alit dan Fairuzul Mumtaz. Rangkaian prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya FSY 2026 yang berlangsung selama delapan hari, 23-30 Agustus 2026.

Pasar Buku Sastra menghadirkan sekitar 3.000 judul buku dengan total 15.000 eksemplar. Buku yang ditawarkan tidak hanya karya sastra, tetapi juga buku umum dan buku anak.

Yetti menjelaskan, pasar buku dihadirkan bukan semata sebagai tempat transaksi, melainkan sebagai ruang pertemuan antara buku dan pembaca. Melalui pertemuan tersebut, pengetahuan diharapkan terus bergerak dan menemukan jalannya di tengah masyarakat.

"Pasar buku bukan sekadar tempat transaksi semata, karena tempat buku menemukan pembacanya dan pengetahuan menemukan jalannya," katanya.

Potensi Ekonomi Ekosistem Literasi

Rangkaian agenda pembukaan dilanjutkan dengan diskusi bertema "Potensi Ekonomi dari Ekosistem Literasi". Diskusi menghadirkan kurator FSY 2026 Paksi Raras Alit dan Fairuzul Mumtaz serta Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY Wawan Arif Rahmat.

Diskusi membahas potensi ekonomi dalam ekosistem kepenulisan dan industri buku, mulai dari produksi karya, penerbitan dan distribusi hingga perubahan pola penjualan buku di tengah perkembangan teknologi.

Paksi mengatakan, dunia kepenulisan memiliki peluang untuk berkembang menjadi bagian dari industri yang mendukung perekonomian. Menurut dia, buku dan kepenulisan selama ini belum banyak dilihat sebagai bagian dari industri, meskipun memiliki ruang ekonomi yang terus berkembang.

"Buku dan kepenulisan selama ini jarang dilihat sebagai bagian dari industri. Kalau kita bicara industri, yang lebih sering muncul adalah sektor seperti kuliner atau manufaktur. Padahal, ternyata dunia buku dan kepenulisan juga memiliki ruang untuk berkembang sebagai bagian dari industri," ucapnya.

Sementara itu, Fairuzul menyoroti perubahan pola distribusi dan penjualan buku. Perkembangan teknologi membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk menemukan dan membeli buku. Kehadiran lokapasar atau marketplace menjadi salah satu kanal distribusi yang memperluas akses pembaca terhadap buku.

"Artinya, misalnya kita mengenal hari ini ada lokapasar, kita bisa berjalan di situ, dan kalau teman-teman melihat, itu banyak sekali marketplace," katanya, mengatakan.

Selain melalui lokapasar, menurut Fairuzul, perkembangan ekosistem buku juga ditandai dengan munculnya model toko buku baru. Di sejumlah daerah, toko buku hadir berdampingan dengan kafe atau kedai kopi sehingga menciptakan ruang alternatif bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan buku.

"Di sudut-sudut Kota Jogja, bahkan di daerah, kita bisa menemukan anak-anak muda yang membuat kafe sekaligus toko buku kecil. Saya kira, model seperti itu bisa kita kembangkan," katanya, menambahkan.

Wawan juga turut menyoroti pentingnya ketersediaan ruang distribusi buku. Menurut dia, akses masyarakat terhadap toko buku di sejumlah daerah masih terbatas sehingga diperlukan berbagai alternatif ruang yang mempertemukan pembaca dengan buku dan penjual dengan pasar.

"Ruang bagaimana kita sebagai pembaca ingin ketemu buku, sebagai penjual mungkin ingin mendistribusinya," ujarnya, menjelaskan.

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem literasi memiliki potensi ekonomi yang tidak berhenti pada proses menulis dan menerbitkan buku. Distribusi, penjualan, serta penciptaan ruang pertemuan antara buku dan pembaca turut menjadi bagian penting dalam keberlanjutan industri buku.

Dalam konteks FSY 2026, tema "LAKU" tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan sastra sebagai proses kreatif dan kebudayaan, tetapi juga sebagai gerak ekosistem sastra dalam menemukan bentuk-bentuk baru agar terus hidup dan berkembang. Pasar buku menjadi salah satu ruang yang mempertemukan karya, pengetahuan, pembaca, sekaligus peluang ekonomi bagi para pelaku ekosistem literasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....