Gamagora 7 Diuji di Kaltim, Harapan Baru untuk Sawah Tadah Hujan

  • 30 Mei 2026 21:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Inovasi varietas padi yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim dinilai menjadi salah satu kunci dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satu terobosan tersebut adalah padi Gamagora 7, varietas unggulan hasil pengembangan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dapat tumbuh baik di lahan sawah maupun lahan tadah hujan.

Potensi tersebut mendorong UGM bersama Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara melakukan uji coba penanaman Gamagora 7 di Kalimantan Timur. Langkah ini dilakukan untuk menguji kemampuan adaptasi varietas tersebut pada kondisi lahan dan iklim yang berbeda.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus penggagas Gamagora 7, Prof. Taryono, menjelaskan bahwa varietas ini dikembangkan untuk menjawab berbagai tantangan pertanian, terutama di lahan tadah hujan. Selain memiliki produktivitas tinggi, Gamagora 7 juga dikenal tahan terhadap hama dan penyakit serta memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibanding varietas pada umumnya.

Menurutnya, pada awal penelitian, Gamagora 7 hanya ditargetkan sebagai varietas berumur pendek dengan hasil panen tinggi. Namun dalam perkembangannya, ditemukan sejumlah keunggulan lain yang menjadikannya semakin potensial untuk dikembangkan.

“Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi,” ujarnya, Sabtu, 30 Mei 2026.

Perjalanan pengembangan Gamagora 7 memerlukan waktu yang panjang. Proses perakitan varietas dimulai sejak 2008 dan baru resmi dilepas pada 2023. Sebelum mendapatkan izin edar, varietas ini harus melalui serangkaian pengujian di delapan lokasi berbeda yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, dan Nusa Tenggara Barat.

Menurut Taryono, penelitian pemuliaan tanaman membutuhkan komitmen besar, baik dari sisi waktu maupun pembiayaan.

“Merakit varietas itu perlu dana yang besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama,” katanya.

Gamagora 7 memiliki potensi hasil panen mencapai 9,7 ton gabah kering giling per hektare. Varietas ini dirancang agar mampu beradaptasi pada lahan dengan ketersediaan air terbatas. Dari berbagai galur yang dikembangkan tim peneliti UGM, Gamagora 7 menjadi satu-satunya yang sejauh ini berhasil memperoleh izin komersialisasi.

Meski secara resmi dikategorikan sebagai padi sawah, Taryono menyebut varietas ini sebenarnya lebih dikenal sebagai padi tadah hujan karena kemampuannya beradaptasi di berbagai kondisi lahan.

“Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya,” katanya.

Ia menilai Gamagora 7 memiliki peluang besar untuk mendukung upaya swasembada pangan mengingat luasnya lahan tadah hujan yang dimiliki Indonesia. Namun demikian, keterbatasan benih dan dukungan pendanaan masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan lebih lanjut.

“Saya optimistis bahwa sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional,” ujarnya.

Taryono berharap penelitian pertanian yang telah terbukti memberikan manfaat bagi masyarakat mendapatkan dukungan berkelanjutan, baik dari sisi fasilitas, lahan penelitian, maupun pendanaan. Hal ini penting agar inovasi varietas berikutnya dapat terus dikembangkan.

Sementara itu, Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Faudzul Idhi, mengatakan bahwa pelaksanaan uji coba di Penajam Paser Utara merupakan bentuk kontribusi nyata alumni UGM dalam menjembatani hasil riset kampus dengan kebutuhan petani di lapangan.

“KAGAMA sebetulnya adalah industri dari UGM yang menguji produk-produk UGM sebelum dilakukan hilirisasi,” ujarnya.

Menurut Idhi, Kalimantan Timur dipilih sebagai lokasi uji coba karena memiliki tantangan pertanian yang cukup kompleks, mulai dari kondisi iklim yang tidak menentu hingga karakteristik tanah yang relatif miskin unsur hara. Kondisi tersebut dinilai ideal untuk menguji ketahanan dan kemampuan adaptasi Gamagora 7.

“Kondisi iklim seperti itu yang membuat kami tertantang untuk mencoba apakah Gamagora 7 ini bisa ditanam,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, KAGAMA Kaltim memberikan pendampingan langsung kepada petani melalui edukasi dan praktik budidaya di lapangan. Uji coba dilakukan pada dua jenis lahan berbeda untuk melihat respons tanaman terhadap kondisi lingkungan yang beragam.

Selain itu, keberadaan Program Sekolah Inovasi Desa yang bekerja sama dengan UGM turut mendukung proses pengembangan teknologi pertanian di wilayah tersebut.

Idhi menjelaskan bahwa penanaman dilakukan pada lahan seluas satu hektare yang dibagi menjadi dua bagian. Sebagian ditanam di lahan basah, sementara sisanya di lahan tadah hujan untuk menguji klaim Gamagora 7 sebagai padi “amfibi” yang mampu tumbuh pada kedua kondisi tersebut.

“Oleh karena itu, kemarin kita dampingi satu hektar dibagi untuk dua lahan. Kita coba dan sekarang sudah mulai tumbuh,” jelasnya.

Hasil dari uji coba ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi UGM untuk menyempurnakan pengembangan Gamagora 7 sebelum diperluas ke wilayah lain di Kalimantan Timur, seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.

Idhi berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah daerah, dan petani ini dapat menjadi model yang direplikasi di berbagai daerah sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Harapan kami tentu ini bisa berhasil, sehingga nanti dapat diperluas ke daerah-daerah lain di Kalimantan Timur,” kata Idhi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....