Momen Bahagia Diakhir Jabatan Rektor UII, Fathul Wahid di Gema Selawat

  • 30 Mei 2026 04:40 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Suasana bahagia menyelimuti pelaksanaan Gema Selawat, Festival Lomba Hadroh Banjari Tingkat MA/SMA/SMK sederajat dalam rangka Milad ke-83 Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 29 Mei 2026. Selain alunan selawat sebagai syiar agama Islam yang penuh makna, momen ini sekaligus mengakhiri masa pengkhidmatan Fathul Wahid sebagai Rektor UII, 2018 - 2022 dan 2022 - 2026 yang berakhir 1 Juni 2026.

Dalam momen tersebut Fathul Wahid menyampaikan momen ini menjadi spesial karena Gema Selawat ini dihadirkan di hari terakhir dirinya menjadi seorang rektor. Menurutnya, rasa bahagia yang ditularkan melalui Festival Lomba Hadroh Banjari ini menjadi hadiah karena selama dua periode dilepas dengan kebahagiaan.

"Saya sangat berbahagia karena dilepas dengan Gema Selawat," katanya, dalam sambutan pembukaan Festival Lomba Hadroh Banjari Tingkat MA/SMA/SMK sederajat, di Auditorium Gedung KHA Wahid Hasyim, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia.

Fathul Wahid juga menyebutkan, penggalan ayat yang dibacakan qari, 'innallaha wa mala'ikatahu yushalluna ‘alan-nabiyy, ya ayyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima' Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Jadi selawat sendiri ini bukan sekedar rangkaian peringatan Milad, tetapi juga salah satu satu ikhtiar kita untuk menjalankan perintah," ucapnya.

Percakapan antara Allah SWT dengan Nabi Muhammad SAW diungkapkan Fathul Wahid, selalu dibacakan saat salat, 'At-tahiyyatu al-mubarakatu as-shalawatu at-tayyibatu lillah' Segala penghormatan, keberkahan, selawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Allah SWT menjawab 'Assalamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu warahmatullahi wa barakatuh' Keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah semoga tetap terlimpah kepadamu, wahai Nabi.

Bentuk kasih sayang Nabi Muhammad tidak hanya membalas untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Islam, dengan mengucapkan 'Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis-salihin' Keselamatan semoga terlimpah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Melalui percakapan tersebut, malaikat bersaksi dengan dua kalimat syahadat 'Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah' Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Memaknai percakapan yang dibaca minimal 10 kali ini, Fathul Wahid melihat sosok Nabi Muhammad SAW yang luar biasa, bagaimana beliau tetap mendoakan dan selalu mementingkan umatnya. Hal ini juga seharusnya menjadi keteladanan bagi seorang pemimpin.

"Kita semuanya didoakan, ini luar biasa, jadi pemimpin itu enggak boleh egois. Ketika dia dapat ujian, dia dapat penghargaan, apresiasi, itu harus disebarkan kepada semua," ujarnya.

Melalui Gema Selawat, Festival Lomba Hadroh Banjari ini diharapkan Fathul Wahid, menjadi syiar agama yang membahagiakan, bukan justru mempersulit. Ia menegaskan, inti ajaran agama adalah memudahkan bukan justru mempersulit, 'Allahumma yassir wa la tu'assir' Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.

"Jadi kalau ada orang beragama atau sukanya atau sulit, ini dipercayakan keberagamaannya," katanya, menambahkan.

Melalui Gema Selawat ini lanjut Fathul Wahid, juga wujud kecintaan kepada Rasulullah sallallahu'alaihiwasallam, dan wujud kecintaan ini juga harus cinta terhadap ajarannya. Cara sederhana dalam memgikhtiarkan ajaran Nabi, salah satunya dengan memberikan senyum saat bertemu.

"Senyum di depan saudara-saudaramu itu sedekah, Nabi itu wajahnya selalu tersenyum. Jadi kalau jadi umat Islam, wajahnya kok cemberut ke orang lain, ini jadi masalah. Nah, sehingga Gena Selawat ini mengantarkan kita pada suasana bahwa beragama itu harusnya menyenangkan dan kita harus menjadi pribadi-pribadi yang juga menyenangkan, wajahnya enak dipandang, air mukanya enak dilihat dan karenanya ketika kita hadir semuanya menjadi tentram," ujarnya.

Fathul Wahid juga mengharapkan, Gema Selawat ini menjadi sesuatu yang membahagiakan. Sekaligus memberikan keberkahan bagi seluruh umat khususnya di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....