Anak Muda Yogyakarta mulai Berminat Menjadi Abdi Dalem Keraton

  • 15 Jun 2026 10:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Abdi dalem Keraton Yogyakarta kini tak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang kuno dan identik dengan lanjut usia. Generasi milenial dan generasi Z mulai banyak mewarnai jajaran abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Kabupaten Sleman KMT Dwijo Jayeng Mardowo menjelaskan saat ini ada sekitar 6.000-7.000 orang yang mengemban tugas sebagai abdi dalem. Seluruhnya terbagi menjadi beberapa kelompok. Mulai dari kelompok Punokawan atau Jayeng mengibaratkan jabatan ini dengan jabatan ASN Keraton. Lalu, ada kelompok Prajurit yang merupakan angkatan bersenjata yang dimiliki Keraton. Ada pula kelompok Kaprajan yang merupakan penerus kebudayaan yang ada di Keraton Yogyakarta.

Berdasarkan catatannya, anggota abdi dalem masih didominasi usia 46-65 tahun. Meski demikian, ada pula generasi muda berusia di bawah 35 tahun. Untuk kelompok Punokawan saja, setidaknya hampir 250 orang anggotanya merupakan anak muda berusia di bawah 35 tahun. Jayeng mengaku senang dengan ketertarikan anak-anak muda pada pekerjaan sebagai abdi dalem. Dia juga optimistis regenerasi abdi dalem Keraton Yogyakarta tetap berjalan.

“Abdi dalem yang dari Prajurit dan Punokawan yang awalnya maksimal 42 tahun sekarang maksimal 35 tahun. Itu saja pesertanya luar biasa. Maka sekarang saya sangat bahagia karena kalau event-event di Keraton anak-anak muda itu luar biasa semangatnya untuk melestarikan budaya,” ucap Jayeng saat dikonfirmasi, Senin, 15 Juni 2026.

Jayeng menambahkan, Keraton Yogyakarta juga memegang prinsip “nut lakuning jaman” atau selalu berkembang dan mengikuti perkembangan zaman. Meski identik dengan budaya dan tradisi, tapi abdi dalem Keraton Yogyakarta tetap berupaya untuk menyediakan publikasi kepada masyarakat dengan memanfaatkan sosial media. Jayeng menambahkan, abdi dalem dari generasi milenial dan generasi z inilah yang dipercaya untuk mengampu pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi.

“Segala dokumentasi dan sebagainya sudah menggunakan teknologi. Jadi sekarang juga banyak IT. Maka sekarang sangat luar biasa, tidak ketinggalan zaman,” katanya.

Jayeng mengatakan kesejahteraan para abdi dalem kini terbilang meningkat. Terlebih mendapat dukungan dari dana keistimewaan. Jayeng menyebut para abdi dalem bukan mendapatkan gaji, melainkan kekucah. Besarannya hampir mendekati upah minimal di Yogyakarta. Pensiunan kepala sekolah ini mengaku turut menerima tambahan penghasilan setiap 4 bulan sekali. Meski demikian, Jayeng menegaskan abdi dalem tak bisa disamakan dengan pekerjaan lain. Sebab, menjadi abdi dalem berarti siap untuk mengabdi kepada Keraton Yogyakarta.

“Kesejahteraan bagi abdi dalem yang dulu itu sangat-sangat minim, lalu dengan dana keistimewaan ini (meningkatkan) kesejahteraan juga luar biasa,” ujar Jayeng.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....