Derita Nelayan Ngrenehan, Harga BBM Tinggi dan Musim Ikan Menurun

  • 18 Mei 2026 05:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul – Musim ikan di Pantai Ngrenehan, Kabupaten Gunungkidul, dinilai belum memberikan hasil maksimal bagi para nelayan. Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya operasional melaut yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan ikan di bulan Mei ini, dengan banyaknya perahu nelayan yang tertambat di pantai.

Salah satu nelayan Ngrenehan Nanang yang juga awak perahu Pawitan 2, mengungkapkan bahwa pendapatan nelayan selama bulan Mei 2026 mengalami penurunan akibat minimnya hasil tangkapan. “Hasil tangkapan hari ini tidak banyak. Kalau dihitung, pengeluaran sekali melaut membutuhkan Pertamax sekitar Rp240 ribu lebih dan ditambah oli dua liter,” ujar Nanang, Minggu 17 Mei 2026.

Banyaknya perahu nelayan yang tertambat di pantai Minggu 17 Mei 2026 (Foto:RRI/Rini)

Menurutnya, hasil tangkapan ikan pada hari itu hanya sekitar 10 kilogram dengan jenis ikan campuran seperti layur, kakap, lendra, dan greget. Senada dengan Nanang, nelayan lainnya, Sarjito, mengatakan bahwa hasil tangkapan ikan pada musim ini memang sedang menurun. Ia menyebut bulan Agustus biasanya menjadi waktu terbaik bagi nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan melimpah karena memasuki masa peralihan musim atau rendeng.

Para wisatawan di Ngrenehan membeli ikan langsung ke nelayan,Minggu 17 mei 2026.(Foto:RRI/Rini)

“Biasanya bulan Agustus ikan cakalang, layur, tuna, dan cakalang mata besar menjadi hasil tangkapan terbanyak,” kata Sarjito.

Sarjito juga menjelaskan bahwa mayoritas nelayan di Pantai Ngrenehan menggunakan mesin tempel dua tak karena dinilai lebih awet dan memiliki tenaga lebih kuat dibandingkan mesin empat tak.

Perahu nelayan Ngrenehan setelah mencari ikan,Minggu 17 mei 2026.(Foto:RRI/Rini)

“Kami nelayan di sini rata-rata menggunakan mesin tempel dua tak karena selain lebih awet, tarikan pertama mesin langsung membuat perahu melaju kencang,” ucapnya.

Dalam sekali melaut, satu perahu biasanya diawaki dua hingga tiga nelayan. Sistem pembagian hasil dilakukan setelah dipotong biaya operasional. Sebanyak dua pertiga hasil diberikan kepada pemilik perahu, sedangkan sepertiganya untuk nelayan pengguna. Selain itu, nelayan juga harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp25 ribu untuk jasa pengangkatan perahu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....