Kasus Hantavirus di MV Hondius Jadi Sorotan Dunia

  • 15 Mei 2026 16:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Hantavirus kembali menjadi sorotan setelah berita kematian akibat infeksi virus yang ditularkan oleh tikus ini dalam klaster kasus di kapal pesiar MV Hondius. Kemunculan kasus tersebut menjadi pengingat bahwa Hantavirus perlu diwaspadai, termasuk di Indonesia.

Merespon hal tersebut, Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar online talkshow bertajuk "Hantavirus Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia." pada Selasa, 12 Mei 2026. Salah satu narasumber, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D menjelaskan kasus di kapal pesiar MV Hondius bermula dari laporan kasus infeksi Hantavirus pada penumpang. Kemudian berkembang dalam klaster terbatas di atas kapal.

Ia menambahkan bahwa kasus yang menjadi perhatian dunia ini disebabkan oleh strain andes virus, yakni satu-satunya jenis Hantavirus yang dapat menular antarmanusia secara terbatas melalui kontak yang sangat dekat dan berkepanjangan. Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena reservoir virus ini yaitu rodensia seperti tikus tersebar luas di Indonesia.

Pada sesi berikutnya, dr. Alindina Anjani, Sp.PD memaparkan aspek klinis Hantavirus, mulai dari gejala, diagnosis, hingga tata laksana penyakit. Ia menjelaskan bahwa Hantavirus umumnya menimbulkan gejala awal yang tidak spesifik seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual dan lemas. Gejala tersebut kerap menyerupai penyakit infeksi lain yang umum ditemukan di Indonesia, seperti demam berdarah, leptospirosis, maupun tifoid. "Karena gejalanya mirip dengan banyak penyakit infeksi lain, riwayat paparan lingkungan dan keberadaan rodensia, seperti tikus dan mencit, menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses diagnosis." jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui pengendalian rodensia dan menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat dihimbau mengurangi potensi kontak dengan tikus, memperbaiki sanitasi, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang beresiko terkontaminasi. Segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala disertai riwayat paparan lingkungan yang beresiko.

Terkait tata laksana paeisn Hantavirus, dr. Alindina menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat terapi spesifik. Sehingga penanganan dilakukan secara supportif sesuai kondisi klinis pasien.

Ia juga menegaskan bahwa pasien dapat dirawat seperti kasus infeksi pada umumnya tanpa kebutuhan isolasi khusus. Jenis Hantavirus yang umum ditemukan di Indonesia tidak menular antar manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....