Kurangi Ketergantungan Nasi lewat Pangan Lokal, Olah Tiwul Lebih Modern
- 11 Mei 2026 11:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mewujudkan ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat terus digalakkan di Kota Yogyakarta. Salah satunya melalui ajakan untuk kembali melirik kekayaan pangan lokal non-beras sebagai sumber karbohidrat alternatif yang kaya gizi.
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta yang menjabat Ketua Komisi D DPRD Kota Yogyakarta Darini mengatakan, Indonesia khususnya wilayah Yogyakarta, memiliki keragaman sumber karbohidrat non-beras yang sangat melimpah, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Hal ini disampaikannya saat Lomba Memasak Sehat yang mengusung tema inovasi menu pangan pengganti beras di Kota Yogyakarta, Sabtu, 9 Mei 2026.
Darini menyebutkan, melalui Lomba Memasak Sehat diharapkan muncul kreativitas baru dalam mengolah bahan pangan lokal agar memiliki nilai rasa yang tinggi dan menarik bagi seluruh anggota keluarga. Kegiatan ini juga mengajak masyarakat untuk kembali melirik kekayaan pangan lokal sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan ketahanan pangan keluarga.
"Kita mengadakan lomba memasak dengan fokus utama pada bahan pengganti beras. Kita ingin menularkan kesadaran kepada masyarakat bahwa sumber pangan kita sangat banyak, mulai dari kentang, telo (singkong/ubi), dan berbagai jenis umbi-umbian lainnya,” katanya.
Darini mengakui bahwa tantangan terbesar dalam diversifikasi pangan adalah budaya masyarakat yang masih memegang prinsip 'belum makan kalau belum makan nasi'. Oleh karena itu, ia mendorong adanya gerakan yang masif untuk membiasakan konsumsi pangan pendamping beras guna memutus ketergantungan tersebut.
“Kita sering mendengar ungkapan bahwa kalau belum kena nasi, rasanya belum makan. Pola pikir inilah yang ingin kita geser secara perlahan. Jika kita sudah mulai membiasakan diri, kita akan merasakan bahwa sumber pangan lain seperti kentang atau telo ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga sangat enak dan kaya akan gizi,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Yogyakarta ini juga menyoroti, kaitan erat antara pola konsumsi pangan dengan tren kesehatan masyarakat saat ini. Di tengah meningkatnya berbagai jenis penyakit tidak menular, kembali ke pangan alami dan beragam menjadi solusi strategis untuk membangun imunitas tubuh.
“Saat ini penyakit sudah bermacam-macam jenisnya. Maka dari itu, mari kita bersama-sama menggalakkan gerakan makan sehat dengan gizi yang memenuhi syarat. Dengan konsumsi pangan yang beragam dan bergizi, kita berharap dapat mewujudkan generasi masyarakat Yogyakarta yang lebih sehat dan tangguh di masa depan,” ujarnya.
Acara yang berlangsung meriah ini diikuti oleh ibu-ibu khususnya dari wilayah Penembahan, Kemantren Kraton. Mereka tampak antusias menyulap bahan-bahan sederhana menjadi hidangan kreatif, mulai dari olahan tiwul modern hingga menu berbahan dasar umbi-umbian lainnya. Kehadiran para ibu dari Penembahan ini dipandang sebagai langkah krusial, mengingat peran strategis perempuan sebagai manajer konsumsi di rumah tangga yang mampu menentukan standar gizi bagi keluarga.
Sebagai bentuk apresiasi, Darini juga sempat mencicipi beberapa hasil masakan peserta dan berdialog langsung mengenai pengolahan pangan lokal. Ia berharap semangat dari ibu-ibu di wilayah Kraton ini dapat menjadi pemantik bagi wilayah lain di Kota Yogyakarta untuk memulai gerakan serupa.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah dan dukungan komunitas di tingkat kelurahan, diversifikasi pangan diharapkan bukan sekadar perlombaan sesaat, melainkan menjadi gaya hidup baru yang berkelanjutan demi ketahanan pangan kota.
Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto mendorong, Pemerintah Kota Yogyakarta agar lebih memperhatikan pertanian perkotaan. Meski diakuinya, lahan sawah di Kota Yogyakarta sangat kecil, tetapi diharapkan fasilitasi berbagai aktifitas pertanian perkotaan mampu wujudkan kedaulatan pangan.
"Pemkot dapat ajak partisipasi para ahli dan praktisi pertanian perkotaan untuk merumuskan kebijakan ini. Juga dapat memfasilitasi masyarakat untuk menanam dengan teknologi yang canggih dan atau teknologi tepat guna. Tentu harus didukung anggaran yang memadai," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....