Perempuan Mampu Jadi Penggerak Edukasi Sejarah lewat Koleksi Museum

  • 27 Apr 2026 19:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ketika museum kerap dipandang sekadar gudang benda-benda tua yang sunyi dan berdebu, perempuan justru hadir sebagai kekuatan penggerak yang mengubah ruang-ruang itu menjadi panggung pengetahuan yang hidup dan bermakna. Di tangan mereka, koleksi berusia ratusan tahun bukan lagi artefak bisu, melainkan jembatan percakapan antar generasi yang mampu menyentuh kesadaran anak muda hingga lapisan masyarakat terluas sekalipun.

Hal tersebut menjadi inti perbincangan dalam program dialog interaktif "Kawruh" yang disiarkan RRI Pro4 Yogyakarta, Kamis, 23 April 2026, dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Elmi Mufidah, S.S., anggota Barahmus DIY sekaligus pegiat Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, serta Ir. Mursupriyani atau yang akrab disapa Yani Ambar, Komisaris Museum Kayu dan Kriya Ambar Polah sekaligus anggota Barahmus DIY. Keduanya membedah bagaimana perempuan memainkan peran strategis dalam menghadirkan pendekatan edukasi yang humanis, komunikatif, dan menyentuh berbagai kalangan melalui koleksi museum.

Nilai perjuangan yang tersimpan di balik setiap koleksi museum bukan sekadar catatan sejarah yang kaku, melainkan energi inspiratif yang harus terus diperkenalkan kepada generasi muda. Di Museum Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia atau yang dikenal sebagai Museum Serikandi, narasi perjuangan perempuan sejak Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928 menjadi ruh utama yang terus dihidupkan. Elmi menegaskan bahwa museum ini bukan hanya tempat menyimpan seragam organisasi wanita atau dokumentasi kongres bersejarah, tetapi juga ruang untuk memperluas perspektif bahwa perempuan turut berjuang di medan perang, dapur umum, kepanduan, hingga perjuangan hak-hak sipil.

Namun tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Generasi Z dan Alpha kini lebih mudah tertarik pada hal-hal yang estetis dan instan, sehingga pendekatan konvensional museum tidak lagi cukup. Elmi mengamati bahwa sebagian besar pengunjung museum Serikandi saat ini masih didominasi mahasiswa yang datang karena tuntutan tugas akademis. Menjadikan mereka hadir atas dasar rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap sejarah adalah tantangan tersendiri yang membutuhkan strategi kreatif dan pendekatan yang lebih personal.

Guna menjawab tantangan tersebut, berbagai inovasi tengah disiapkan, mulai dari pembangunan Kids Corner untuk anak-anak, photobooth bertema pergerakan wanita, hingga gift shop yang menjual pernak-pernik menarik bagi anak muda. Pendekatan ini dirancang agar kunjungan ke museum tidak terasa sebagai kewajiban, melainkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus sarat makna. Di sisi lain, Yani Ambar menempuh jalur yang tak kalah kuat melalui Museum Kayu dan Kriya Ambar Polah, dengan menggelar pelatihan mendaur ulang produk lama, talk show koleksi, serta menggandeng SMK dan lembaga vokasi untuk mengenalkan nilai estetika budaya pada generasi penerus.

Terkait kekayaan koleksi yang menjadi daya tarik utama, Elmi menyoroti pentingnya membaca setiap benda koleksi secara lebih dalam. "Kalau misalnya ada kursi, kursinya itu dipakai oleh tokoh terkenal atau siapapun itu. Tapi kita harus melihat bagaimana kursi itu ada di situ dan menjadi sebuah ruang yang di mana ada banyak orang, ada banyak peran di belakangnya. Nah peran itu ada banyak tangan-tangan wanita yang hebat di situ," ujarnya.

Sementara itu, Yani Ambar menekankan betapa kayanya budaya kayu yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas. "Budaya kayu ini sangat beragam sekali. Museum akan berbicara banyak dan membawa pergerakan dari generasi muda menuju bentuk pola manusia Indonesia yang seutuhnya," katanya.

Sebagai penutup, keduanya sepakat bahwa museum adalah investasi peradaban yang tidak ternilai. Perempuan, dengan segala kepekaan dan kreativitasnya, menjadi motor penggerak yang memastikan warisan leluhur tidak sekadar tersimpan, tetapi terus menginspirasi. Di bulan Kartini ini, semangat perempuan berbudaya dan berdaya bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk terus digaungkan agar generasi emas Indonesia kelak tumbuh dengan akar identitas yang kokoh dan karakter yang beradab. (Auliya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....