Deteksi Dini dan SADARI Tingkatkan Peluang Sembuh Kanker Payudara
- 25 Agt 2026 16:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kanker payudara merupakan kondisi ketika sel abnormal atau ganas tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali pada jaringan payudara. Kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran turut mendorong perkembangan metode skrining sehingga kanker dapat ditemukan lebih awal dan risiko kematian dapat ditekan. Namun, melansir laman Kemenkes RI, pada tahun 2022 kanker payudara masih menjadi jenis kanker dengan angka kematian tertinggi di Indonesia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 2,4 juta perempuan didiagnosis menderita kanker payudara dan 694 ribu di antaranya meninggal dunia. WHO juga mencatat adanya kesenjangan secara global. Negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tinggi cenderung memiliki angka diagnosis kanker payudara lebih tinggi, tetapi risiko kematiannya lebih rendah dibandingkan negara dengan IPM rendah.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya akses terhadap skrining, deteksi dini, serta pengobatan yang memadai dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Dosen Departemen Biostatistika, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, FK-KMK UGM, Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M.Biotech mengatakan, kanker payudara dapat ditangani dengan baik apabila ditemukan pada stadium awal. Karena itu, pengetahuan mengenai faktor risiko dan pemeriksaan sejak dini menjadi hal penting, termasuk bagi perempuan usia muda.
“Kanker secara umum itu sangat penting untuk bisa kita deteksi sejak awal karena sebenarnya kan bisa disembuhkan total kalau terdeteksi di stadium yang awal. Jadi sebenarnya bisa disembuhkan, termasuk penyakit yang bisa disembuhkan,” ucapnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurutnya, kanker masih kerap dianggap sebagai penyakit yang menakutkan karena banyak pasien baru mendapatkan pemeriksaan ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut. Oleh sebab itu, perempuan perlu mengenali faktor risiko yang dimiliki dan meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemeriksaan secara berkala.
“Jadi sangat penting kita sejak awal itu menyadari kita itu punya faktor risiko yang tinggi atau tidak. Kalau punya faktor risiko yang tinggi itu harus lebih aware, lebih rajin untuk periksa atau memeriksa payudaranya sendiri,” ujarnya.
Prima menjelaskan, faktor risiko kanker payudara terbagi menjadi faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang masih dapat dimodifikasi. Jenis kelamin, riwayat keluarga, dan faktor genetik termasuk dalam faktor yang tidak dapat diubah.
Perempuan memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara dibandingkan laki-laki. Meski demikian, laki-laki juga tetap memiliki kemungkinan mengalami penyakit tersebut. Risiko juga dapat meningkat pada seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker, khususnya kanker payudara.
Faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan kecenderungan seseorang mengalami kanker payudara. Karena itu, perempuan dengan riwayat kanker dalam keluarga perlu meningkatkan kewaspadaan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai.
Sementara itu, sejumlah faktor risiko lainnya berkaitan dengan pola hidup dan lingkungan yang masih dapat dikendalikan. Upaya pencegahan karena itu perlu dibarengi dengan penerapan gaya hidup sehat dan kesadaran menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Deteksi Dini Masih Menjadi Tantangan
Perkembangan layanan dan pemeriksaan kesehatan belum sepenuhnya diikuti kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara rutin. Menurut Prima, sebagian masyarakat masih memiliki kecenderungan memeriksakan diri setelah muncul keluhan atau rasa sakit.
“Budaya di Indonesia itu kalau belum sakit, belum ingin diperiksa. Jadi, belum banyak kesadaran untuk check up rutin,” katanya.
Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan pasien baru datang ketika kanker telah memasuki stadium lanjut. Padahal, pemeriksaan kesehatan tidak harus menunggu munculnya rasa sakit maupun gejala yang berat.
Selain persoalan kesadaran, rasa takut terhadap hasil diagnosis, tindakan operasi, hingga biaya pengobatan juga dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian memilih pengobatan alternatif dan mengesampingkan pemeriksaan medis.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa semakin cepat kanker diketahui, semakin besar peluang mendapatkan penanganan yang tepat. Pemeriksaan medis tetap diperlukan ketika terdapat perubahan maupun kelainan pada payudara.
Salah satu upaya sederhana yang dapat dilakukan perempuan adalah pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan secara mandiri di rumah dan menjadi salah satu cara untuk mengenali perubahan pada payudara.
Prima menilai edukasi mengenai SADARI perlu diperluas, terutama kepada perempuan muda. Pemahaman mengenai cara pemeriksaan yang tepat diharapkan dapat mendorong masyarakat menjadikan SADARI sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan.
“Sebenarnya SADARI itu mudah dilakukan. Mungkin perlu promosi kesehatan yang lebih masif tentang SADARI itu sebenarnya mudah,” ujarnya.
Edukasi, menurutnya, dapat disampaikan melalui berbagai media yang mudah dipahami masyarakat, seperti poster maupun materi visual yang menjelaskan tahapan pemeriksaan payudara sendiri. Dengan edukasi tersebut, perempuan diharapkan mampu mengenali kondisi payudaranya secara rutin dan segera memeriksakan diri jika menemukan perubahan.
Ia menyarankan pemeriksaan payudara sendiri dilakukan secara rutin, misalnya satu kali dalam sebulan. Jika ditemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, pemeriksaan perlu dilanjutkan kepada tenaga kesehatan untuk memperoleh penilaian medis.
Membangun Kesadaran Bersama
Upaya penanganan kanker payudara tidak hanya menjadi tanggung jawab pasien dan tenaga kesehatan. Peningkatan deteksi dini membutuhkan keterlibatan masyarakat, keluarga, tenaga kesehatan, hingga lingkungan pendidikan.
Prima menilai edukasi mengenai kanker payudara perlu terus diperkuat untuk meluruskan berbagai mitos dan ketakutan yang dapat membuat masyarakat enggan melakukan pemeriksaan. Mahasiswa dan masyarakat berpendidikan juga dapat berperan dengan menyebarluaskan informasi kesehatan yang tepat.
Sementara dari sisi pelayanan, tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan edukasi secara komunikatif, termasuk mengajarkan cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri kepada pasien.
“Semua bersama-sama untuk menangani ini. Kemudian juga keluarga misalnya, keluarga juga harus support,” tuturnya.
Dukungan keluarga menjadi penting ketika seseorang menemukan kelainan pada payudaranya. Keluarga diharapkan dapat mendorong anggota keluarga untuk segera menjalani pemeriksaan medis dan tidak menunda penanganan.
Prima juga mengingatkan agar pengobatan alternatif tidak dijadikan pengganti penanganan medis. Jika masyarakat memilih menggunakan pengobatan alternatif, pemeriksaan dan penanganan medis tetap perlu dilakukan.
Deteksi dini menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan kanker payudara. Mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan secara rutin, serta segera mencari pertolongan medis ketika menemukan kelainan perlu dibangun sebagai kebiasaan.
“Perlunya itu ya kita semua bareng-bareng bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....