Seni Wayang Kontemporer Jadi Ruang Dialog Inklusi dan Gender
- 20 Apr 2026 10:59 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Keragaman dan inklusivitas kerap kali hanya menjadi sebatas semboyan tanpa praktik nyata di ruang publik. Kelompok marginal sering kali disingkirkan karena dianggap tidak sesuai dengan norma umum. Namun, Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) mengambil langkah berbeda dengan membawa isu tersebut ke tengah masyarakat melalui seni pertunjukan yang menggugah empati.
Dalam pementasan yang digelar di Rumah Budaya Omah Kahangnan, Pajangan, Bantul, Minggu 19 April 2026 seniman Kus Sri Antoro berkolaborasi mementaskan wayang bersama Muhammad Haryanto, seorang dalang penyandang disabilitas netra dari komunitas SENIRABA. Keduanya membawakan lakon sarat makna dengan tajuk "Dianggap Berdosa Karena Berbeda".
Pementasan ini menceritakan kisah persahabatan tiga karakter disabilitas, yakni Desta (difabel netra), Nala (berkursi roda), dan Arvi (difabel imunitas). Lakon tersebut secara apik menyoroti masa kecil mereka, seperti bagaimana serunya Desta yang tuna netra harus mencari kedua temannya saat bermain petak umpet. Lebih dalam lagi, pertunjukan ini mengeksplorasi cara mereka mengenali diri dan menyiasati situasi untuk membangun dunia yang inklusif dari kecil hingga dewasa.
Kus Sri Antoro mengungkapkan bahwa pementasan pada pertemuan kedua JWK ini merupakan respon atas menguatnya praktik intoleransi, maskulinitas beracun (toxic masculinity), dan patriarki di masyarakat.
"Kami mengambil tema inklusi dalam ragam tubuh, disabilitas, dan juga keragaman gender serta seksualitas, utamanya untuk teman-teman yang dianggap berbeda oleh umum seperti transgender atau individu dengan sindrom genetik tertentu. Bahwa mereka ada, mereka harus diakui, mereka punya hak, harus dihormati, dihargai, dan dilindungi," ujar Kus.
Proses kreatif di balik pementasan ini rupanya tidak instan dan sangat menjunjung tinggi etika. Kus menjelaskan bahwa riset dan penggarapan isu ini telah dimulai sejak tahun 2020. Pihaknya mengedepankan proses persetujuan (Free, Prior and Informed Consent/FPIC) saat membuat karakter, termasuk berkonsultasi langsung dengan komunitas transgender di Ponpes Waria Al-Fatah. Naskah pementasan diperiksa secara ketat, direvisi, dan baru dipentaskan setelah mendapat persetujuan penuh sebagai bentuk penghormatan.
"Bikin naskah dan produknya memang cepat, tapi proses penghormatannya ini yang panjang. Kami menempuh itu karena memang harus seperti itu, agar pesannya bisa membuka ruang dialog di masyarakat luas," katanya.
Kedepan, Kus berharap pementasan semacam ini tidak hanya berhenti pada kampanye sosial, tetapi juga mampu mendorong keadilan dalam pelayanan publik. Sering kali, kelompok rentan seperti teman-teman keragaman gender kesulitan mendapatkan layanan dasar administrasi seperti KTP akibat diskriminasi dari lingkungan maupun aparat.
"Memberi pelayanan publik pada mereka itu tidak berarti mendukung nilai-nilai pribadi mereka. Itu dua hal berbeda. Ini layanan dasar yang harus dipenuhi oleh negara. Harapan kami, melalui seni, pemerintah dan masyarakat luas bisa menyadari bahwa mereka adalah sesama manusia dan warga negara yang hak-haknya wajib dipenuhi," kata Kus.
Melalui pementasan wayang kontemporer ini, JWK kembali mengingatkan publik bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengamanatkan kita untuk memperlakukan keberagaman dengan cara yang arif, bukan untuk disisihkan apalagi dibasmi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....