Tanpa Sumur, 90 Rumah di Kampung Badran Bergantung pada Belik Kali Winongo

  • 18 Apr 2026 13:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Di tengah perkampungan yang padat penduduk, ada satu mata air atau belik di Kota Yogyakarta yang masih aktif hingga saat ini. Belik ini terletak di Kampung Badran dan menjadi sumber penghidupan bagi 90 rumah di RT 48 dan RT 49 Kelurahan Bumijo, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta.

Belik ini dikelola oleh warga yang tergabung dalam kepengurusan Kelompok Paguyuban Masyarakat Air Minum Yogyakarta (Pamaskarta) Banyu Bening Winongo.

Koordinator Kelompok Pamaskarta Banyu Bening Winongo Partini menyebut lokasi belik ini berada di seberang Kali Winongo. Untuk mencapainya, warga perlu menyebrangi Kali Winongo. Mengingat ini merupakan satu-satunya sumber air bersih yang ada, maka warga tetap akan menyebrangi Kali Winongo sekalipun dalam keadaan banjir.

Prihatin akan perjuangan warga yang mempertaruhkan keselamatan untuk mendapatkan air bersih, mendorong Partini untuk berupaya menaikkan air dari belik menuju ke perkampungan. Semula, warga tak percaya akan cita-cita besar Partini ini lantaran kontur tanah yang cukup sulit. Namun, bak gayung bersambut, Partini mencoba untuk menggandeng Yayasan Kota Kita di Pakualaman untuk mendekatkan akses air bersih ke perkampungan.

“Pada 2010 kita masih ada rapat dulu dan sebagainya kemudian Yayasan Kota Kita yang mengelola pendanaannya sehingga bisa terwujud seperti ini. Baru di 2013 itu mulai mengalir,” ujar Partini saat ditemui baru-baru ini.

Semula hanya ada 15 rumah warga yang dialiri air dari PAM Mandiri Belik Winongo ini. Partini mengatakan pembangunan belik hingga mengalir ke rumah warga ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 150 juta. Sebesar Rp 110 juta merupakan hibah dari Yayasan Kota Kita, sedangkan sisanya merupakan pinjaman lunak.

Kala itu, masyarakat diminta untuk membayar iuran sebesar Rp 600.000 untuk instalasi perpipaan yang dibayarkan secara bertahap. Lambat laun, pengguna PAM Mandiri Belik Winongo terus bertambah, hingga kini mencapai 90 rumah. Partini memastikan wilayahnya sudah tersentuh oleh aliran PDAM. Namun, warga cenderung memilih PAM Mandiri lantaran harga iuran yang lebih terjangkau dan tidak mengandung kaporit.

“Iurannya sebesar Rp 30.000, tergantung pemakaian karena ada meterannya. Kami hanya sosial, kan ada keperluan untuk listrik, untuk perawatan mesinnya, tetap harus ada dana masuk. Ada bagian teknisi, penagih, pencatat meteran, sekitar 7 orang,” ujar Partini.

Hadapi kendala

Partini mengatakan ada sejumlah kendala yang terjadi, utamanya ketika Kali Winongo mengalami banjir. Pipa yang dipasang melintang melewati Kali Winongi ini rawan bocor dan putus. Terkait dengan kualitas air,

Partini menyebut air di PAM Mandiri Belik Winongo ini terbilang baik. Namun, tetap mengandung cemaran e-coli dan tak ditemui cemaran yang lain. Untuk itu, dia terus mengingatkan masyarakat untuk merebus air hingga bersih jika akan digunakan untuk minum ataupun masak.

“Pasti dimasak dulu, direbus dulu dan kadang-kadang kita pakai kaporit tapi kan ibu-ibu terkadang tidak mau kalua air bau kaporit. Kita hanya menekankan harus direbus,” ucap Partini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....