Kwarda DIY Bentengi Gen Z dari Arus Individualisme

  • 16 Apr 2026 15:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta -- Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus memperkuat peran strategisnya dalam pendidikan karakter bangsa. Mengingat keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Langkah ini dinilai sangat krusial untuk membentengi generasi Z dan Alpha dari derasnya arus individualisme di tengah era globalisasi dan digitalisasi.

Diskusi mendalam mengenai pendidikan karakter ini mengemuka di Siaran Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta ,Kamis 16 Januari 2026 yang menghadirkan para pemangku kebijakan Pramuka di DIY. Fokus utama bermuara pada bagaimana menanamkan kedisiplinan serta kemandirian agar nilai-nilai kepramukaan tidak tergerus oleh zaman, melainkan mampu beradaptasi dan tetap relevan bagi anak muda.

Ketua Kwarda DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, menekankan bahwa esensi pendidikan kepramukaan adalah mencetak generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata. Menurutnya, pergeseran gaya hidup generasi masa kini menjadi tantangan tersendiri bagi para pembina.

"Pada intinya, Gerakan Pramuka menyiapkan adik-adik agar saat dewasa nanti bisa berkontribusi untuk masyarakat dan negara. Tantangannya semakin berat karena belakangan ini, membentuk kemauan berprestasi yang bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk sesama, menjadi hal yang makin tidak mudah di tengah tingginya sifat individualistik," kata GKR Hayu.

Menyambung hal tersebut, Sekretaris Kwarda DIY, Kakak drh. Sri Budoyo atau yang biasa disapa Kak Bud, menjelaskan bahwa pembentukan karakter di Pramuka dirancang secara terstruktur dan disesuaikan dengan perkembangan psikologis masing-masing golongan usia peserta didik. Baginya, praktik langsung di lapangan adalah kunci agar anak-anak tidak terjebak dalam dunia maya.

"Kita mengenal pembentukan kepribadian melalui aspek spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik. Oleh karena itu, kegiatan terjun ke jalan membantu masyarakat saat hari raya menjadi media penting. Ini melatih kepedulian sosial mereka secara langsung agar tidak hanya terpaku pada gawai masing-masing," kata Kak Bud.

Menariknya, pendidikan karakter di DIY tidak sekadar meniru kurikulum luar. Melalui inisiatif "Pramuka Istimewa", kearifan budaya lokal diangkat menjadi metode yang efektif untuk menanamkan kedisiplinan dan empati.

"Kita tidak perlu selalu melihat pada teori Barat. Lewat penggunaan bahasa daerah, anak-anak belajar tata krama dan menempatkan diri. Melalui gamelan, mereka belajar mendengarkan satu sama lain tanpa harus ada konduktor. Nilai-nilai lokal ini yang dipadukan dengan kecakapan digital dan kemampuan bertahan hidup agar mereka siap menghadapi masa depan," ujar GKR Hayu.

Warisan kepemimpinan dan kedisiplinan yang telah ditorehkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX bukan hanya sebatas catatan sejarah masa lampau. Keteladanan tersebut menjadi penunjuk arah sekaligus fondasi yang kokoh untuk menavigasi masa depan, memastikan generasi penerus bangsa tetap tangguh, berakar pada budaya, dan memiliki karakter yang luhur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....