RRI Yogyakarta Dorong Digitalisasi serta Kemitraan Produk
- 06 Jun 2026 18:41 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjaga keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tengah derasnya arus modernisasi tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Sering kali, para pelaku usaha terjebak pada pola konvensional tanpa menyadari bahwa minimnya identitas merek dan ketertinggalan teknologi dapat membuat produk lokal sulit bersaing di pasar yang lebih luas. Menjawab tantangan tersebut, berbagai pemangku kepentingan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus bersinergi menggencarkan gerakan "Bela Beli Produk Lokal" serta digitalisasi agar sektor ekonomi kreatif ini benar-benar tangguh dan naik kelas.
Dalam bincang-bincang hangat di program Dialog Pendapha dengan tema "Hamemayu Budaya, UMKM Jogja Maju Bersama" yang disiarkan oleh RRI Pro 4 YogyakartaKamis 4 Juni 2026, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Hermawan, S.E., M.M. mengungkapkan bahwa memiliki merek sendiri adalah langkah krusial bagi pelaku usaha saat ini. Mengingat Yogyakarta tidak memiliki potensi perkebunan atau pertambangan yang besar, industri kreatif dan UMKM wajib didukung penuh sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
"Justru teknologi digitalisasi ini menjadi suatu keniscayaan. Kalau memang pelaku UMKM yang sepuh masih gaptek, fasenya sekarang memang kebo nyusu gudel yang tua belajar dari anak muda untuk memanfaatkan teknologi seperti TikTok, QRIS, hingga penjualan online. Digitalisasi ini mempermudah dan memperluas jangkauan kita," ujar Wawan
Melengkapi penjelasan tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono, S.P., M.T., memaparkan data makro mengenai peta pelaku usaha di wilayahnya. Saat ini, tercatat ada sekitar 347.000 UMKM di DIY, di mana lebih dari 90 persen di antaranya berada di takaran kelas mikro. Padahal, kontribusi sektor UMKM terhadap sumbangan ekonomi di DIY tergolong sangat besar, yakni mencapai lebih dari 60 persen.
"Untuk mengoptimalkan pembinaan, kami menerapkan aplikasi SiBakul Jogja yang mencakup enam aspek pembinaan: mulai dari produksi, SDM, kelembagaan, akses permodalan, pemasaran, hingga pemanfaatan IT. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, diperlukan
kolaborasi dan elaborasi dari berbagai kementerian, lembaga, dan kelompok masyarakat untuk 'ngeroyok' UMKM agar maju bersama," kata Agus.

Lebih lanjut, peran strategis dalam membangun ekosistem ini juga diambil oleh LPP RRI Yogyakarta. Kepala LPP RRI Yogyakarta, Taufan Pamungkas, menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir, RRI secara konsisten memposisikan diri sebagai "Radio UMKM". RRI tidak hanya bertindak sebagai media informasi, melainkan menjelma sebagai hub yang menghubungkan jutaan pelaku usaha dengan pemangku kepentingan dan calon pembeli secara nasional maupun internasional.
"Kami menyediakan kanal khusus UMKM di dalam aplikasi RRI Digital yang berfungsi sebagai marketplace sekaligus ruang edukasi. Melalui inovasi digital ini, produk lokal Yogyakarta kini tidak hanya menasional, tetapi juga mengglobal. Bahkan, catatan transaksi dan kontak bisnis antar-pengusaha UMKM kita sudah ter-tracking sampai ke Singapura dan Thailand," ujar Taufan.
Di sisi lain, realitas dan tantangan di lapangan turut disuarakan oleh R.Ngt. Adhyas Woro, selaku praktisi sekaligus penggerak UMKM. Menurutnya, masalah klasik seperti keterbatasan modal, kemampuan manajemen, hingga strategi pengemasan produk (packaging) masih sering dikeluhkan oleh pelaku usaha di tingkat bawah. Banyak produk yang memiliki rasa luar biasa, namun kurang diminati hanya karena tampilan kemasannya yang belum menarik.
Kendati demikian, ia mengingatkan agar para pelaku usaha tidak berkecil hati dan mulai merapikan legalitas hukum mereka sebagai langkah awal menuju profesionalisme. "Sekarang perbankan sudah banyak membantu. Yang terpenting, kalau kita bisa membuat produk, tolong identitasnya juga dibuat. Segera daftarkan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan sertifikasi Halal. Itu modal penting untuk pemasaran," kata Adhyas. (Keke)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....