GKR Hayu: Budaya dan Pramuka Jadi Senjata Bentuk Karakter Bangsa

  • 16 Apr 2026 15:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pendidikan karakter bagi generasi muda di era digitalisasi dan globalisasi kerap dihadapkan pada tantangan besar, di mana arus informasi yang masif dan beban hidup cenderung membentuk sikap individualistis. Namun, Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) terus berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menyelaraskan nilai-nilai kepramukaan dan kearifan lokal agar tetap relevan dalam membentuk karakter tangguh bagi Generasi Z.

Dalam bincang-bincang hangat di acara “Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta Kamis, 16 April 2026, Ketua Kwarda DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, mengungkapkan bahwa misi utama Gerakan Pramuka adalah meneruskan amanat Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yakni mendidik generasi muda agar kelak mampu berkontribusi secara nyata bagi masyarakat dan negara.

Menghadapi dinamika masa kini, GKR Hayu menyadari bahwa mengawal generasi muda membutuhkan pendekatan yang berbeda. Beban akademis dan sosial yang semakin berat sering kali membuat anak muda kesulitan untuk memikirkan kontribusi sosial. Bahkan, tidak sedikit Gen Z yang memilih menghindari tanggung jawab atau jabatan kepemimpinan di dunia kerja karena adanya perbedaan nilai dengan generasi pendahulunya.

"Tendensinya dengan globalisasi itu membentuk orang menjadi lebih individualistik. Bagaimana mereka sendiri ada kemauan untuk berprestasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi bagaimana mengaplikasikan itu untuk sesamanya. Nah, itu yang mendasari dan mulai agak semakin susah di sini-sini," ujar GKR Hayu.

Untuk memastikan penanaman kedisiplinan dan karakter tidak tergerus budaya asing, Kwarda DIY mengimplementasikan konsep "Pramuka Istimewa". Melalui konsep ini, anggota Pramuka dibekali dengan pemahaman budaya lokal secara praktis. Pihak Kwarda mengharuskan peserta didik untuk bisa mengenakan kain jarik dengan wiron yang benar saat peringatan Kemis Pon, serta mampu membedakan gagrak (gaya busana) Yogyakarta dan Surakarta. Tidak hanya fokus pada hal fisik, filosofi budaya juga ditanamkan melalui penggunaan bahasa daerah untuk melatih subasita (penempatan diri) serta latihan gamelan yang melatih kepekaan mendengarkan orang lain karena dimainkan tanpa konduktor.

Dalam sesi interaksi dengan pendengar, GKR Hayu menekankan bahwa adaptasi terhadap era digital adalah sebuah keharusan agar Pramuka tidak kehilangan relevansinya. Namun, digitalisasi tersebut harus dibarengi dengan penguatan survival skills (keterampilan bertahan hidup), mengingat generasi muda diprediksi akan menghadapi lebih banyak anomali dan bencana alam di masa depan.

"Ketika bencana alam itu terjadi, baterai tidak ada, listrik tidak ada, mereka tetap bisa paling tidak menolong dirinya sendiri. Syukur-syukur bisa menolong yang lain. Jadi bukan diganti ke materi yang digital, tapi malah ditambahkan. Bagaimana mereka menggunakan teknologi secara baik dan benar, itu juga yang harus kita masukkan ke dalam kurikulum," kata GKR Hayu

Keberlanjutan pendidikan kepramukaan ini tidak lepas dari evaluasi kurikulum yang terus dilakukan secara adaptif, termasuk berintegrasi dengan kurikulum dari Dewan Pendidikan. Meski menyadari bahwa mencetak generasi paripurna bukanlah hal yang mudah dan instan, GKR Hayu berharap dari sebagian kecil anggota Pramuka yang dididik, mereka dapat memberikan dampak, mengabdi, dan berkontribusi secara nyata bagi masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....