Dilema Pelestarian Lahan Sawah dan Pengembangan Ekonomi

  • 07 Apr 2026 22:21 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Kondisi perang di timur tengah saat ini juga berdampak bagi perekonomian di Kabupaten Bantul. Hal tersebut ditambah dengan persoalan tata ruang terutama pemanfaatan lahan, yang membatasi ruang gerak dalam mencari alternatif sumber ekonomi baru.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan, pihaknya masih menghadapi kendala terkait penguncian lahan pertanian lewat skema Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) atau Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Selain itu, keterbatasan luas lahan juga menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan sektor penggerak ekonomi.

“Kuncian LP2B atau LSD itu sekitar 14 ribu hektar. Sementara Bantul adalah kabupaten dengan luas terkecil di DIY yakni 511 kilometer persegi. Tentu kami dihadapkan pada pilihan alternatif sektor mana yang paling memberikan dukungan besar terhadap ekonomi,” ucapnya, Selasa, 7 April 2026.

Menurutnya, sektor industri dan perdagangan merupakan opsi yang paling tepat karena memiliki nilai tambah yang tinggi. Satu hektar lahan pun dapat disulap menjadi industri dengan nilai ekonomi yang tinggi.

“Bayangkan saja kalau dibangun kampus. Maka nanti akan tumbuh kos-kosan, warung, dan jasa-jasa lainnya. Apalagi dibuat pabrik, maka akan mampu menyerap ribuan tenaga kerja,” ujarnya.

Di sisi lain, pelestarian lahan sawah menjadi sebuah kewajiban. Dilema antara mempertahankan lahan untuk pertanian dan peningkatan ekonomi masih menjadi masalah yang belum terselesaikan.

“Tapi kita dilarang untuk alih fungsi lahan demi ketahanan pangan dan kelestarian sawah. Nah perdebatannya itu antara kesejahteraan yang utamakan, atau mempertahankan sawah. Ini perdebatan yang cukup sengit,” katanya.

Selain itu, regulasi terkait pemanfaatan tanah kas desa juga dinilai belum ramah investasi. Peraturan Gubernur DIY yang membatasi masa sewa lahan maksimal lima tahun, belum mampu menarik investor jangka panjang.

“Tentu ini menjadi tantangan bagi investasi. Mana ada investasi itu hanya lima tahun. Mereka rata-rata menginginkan 30 tahun. Ini antara harapan dan kenyataan yang kita hadapi,” ucapnya menambahkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....