Kolaborasi Sentuhan Jawa-Bali, Candra Geni Sri Sedana Dibangun dari 22 Ribu Batu

  • 07 Apr 2026 06:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Candi Candra Geni Sri Sedana menjadi candi buatan baru yang tengah dikembangkan di Kalurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman. Candi ini menghadirkan konsep bangunan yang unik dan berbeda dari candi-candi pada umumnya.

Dari sisi arsitektur, candi ini memadukan nilai spiritual kuno dengan pendekatan konstruksi modern. Arsitek Candi Candra Sri Sedana, Azis Setyawan menjelaskan bentuk bangunan candi ini tidak lepas dari narasi spiritual yang dirumuskan oleh para tokoh budaya dan spiritual.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk fisik oleh tim teknis.

“Dari cerita-cerita baik teknis maupun nonteknis yang disampaikan oleh para tokoh spiritual, kami terjemahkan menjadi bentuk bangunan seperti yang ada sekarang ini,” ujar Azis, Minggu, 5 April 2026.

Azis menyebut, karakter arsitektur candi ini mengacu pada gaya era Mataram Kuno atau Medang Kamulan. Dia menuturkan ada perbedaan dengan candi-candi besar seperti Candi Borobudur maupun Candi Prambanan.

Secara fisik, bangunan candi ini memiliki bentuk segi delapan dengan tinggi mencapai sekitar 17 meter dari permukaan tanah. Struktur dasar candi berukuran 6x6 meter yang kemudian mengerucut ke atas. Sementara bagian bawah terdapat kolam mengelilingi candi dan berukuran 11x11 meter.

Azis menambahkan, terdapat sembilan anak tangga utama menuju bagian dalam candi yang juga mengandung filosofi tersendiri. Selain itu, ada perpaduan sentuhan budaya Bali pada candi ini, Salah satunya terletak dari ukuran anak tangga.

“Kalau candi, tangganya memang dibuat lebih tinggi dari tapaknya. Jadi berbeda dengan bangunan rumah biasa, ini lebih menanjak,” ucap Azis.

Dari sisi konstruksi, pembangunan candi ini menggunakan struktur beton bertulang sebagai dasar, dengan kedalaman pondasi mencapai sekitar tiga meter. Seluruh bagian luar dan dalam nantinya akan dilapisi batu andesit lokal yang berasal dari kawasan Lereng Merapi.

“Untuk batu, totalnya sekitar 21 ribu hingga 22 ribu keping yang akan dipasang. Semua menggunakan batu andesit lokal,” ungkap Azis.

Elemen spiritual

Menariknya, di bagian bawah struktur juga ditanam berbagai material simbolik seperti logam mulia dan batu bernilai sebagai bagian dari filosofi bangunan. Elemen ini menjadi representasi nilai spiritual yang menyatu dengan konstruksi fisik candi.

Dalam proses pembangunan, Azis mengakui tantangan terbesar justru datang dari aspek teknis di lapangan. Hal ini karena pembangunan melibatkan tenaga kerja lokal yang sebelumnya belum terbiasa mengerjakan struktur bangunan kompleks seperti candi.

“Kita memang sengaja melibatkan tukang lokal. Tantangannya ada di pendampingan, karena struktur candi ini cukup rumit dibanding bangunan biasa,” jelasnya.

Saat ini, pembangunan struktur utama candi telah mencapai 100 persen dan memasuki tahap finishing. Proses pemasangan batu dilakukan secara bertahap dari bagian atas ke bawah untuk efisiensi pengerjaan.

Selain struktur luar, bagian dalam candi juga dirancang sebagai ruang terbuka vertikal yang menjulang hingga ke bagian atas. Namun, akses ke dalam candi nantinya akan dibatasi dan hanya dibuka pada momen tertentu, terutama saat kegiatan ritual atau keagamaan.

Dengan desain yang sarat filosofi serta pendekatan konstruksi yang detail, Candi Candra Geni Sri Sedana tidak hanya menjadi bangunan ikonik, tetapi juga representasi perpaduan antara warisan budaya, spiritualitas, dan inovasi arsitektur modern di Sleman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....