Candra Geni Sri Sedana, Candi Baru yang Lahir dari Inspirasi Seniman Sleman

  • 07 Apr 2026 05:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Destinasi wisata baru tengah dikembangkan di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Kalurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman. Sebuah candi buatan bernama Candra Geni Sri Sedana ini digagas oleh seniman dan masyarakat setempat sebagai upaya untuk mendongkrak kunjungan wisatawan, sekaligus meningkatkan lama tinggal wisatawan.

Penggagas konsep Candi Candra Geni Seri Sedana Djoko Mursabdo atau yang akrab disapa Djoko Timun menjelaskan pembangunan candi ini melibatkan kolaborasi lintas sektor. Mulai dari seniman, birokrat, hingga pengusaha. Djoko menyebut konsep ini berangkat dari keinginan menghadirkan ikon wisata baru di Yogyakarta yang setara dengan kawasan populer di daerah lain.

“Kalau di Bali ada Ubud, di Jakarta ada Ancol, maka kami ingin Yogyakarta juga punya semacam pusat wisata yang merepresentasikan kekuatan budaya dan spiritualitas,” ujar Djoko saat ditemui di Candi Candra Geni Sri Sedana, Minggu, 5 April 2026.

Menurut Joko, Candi Candra Geni Sri Sedana dirancang tidak hanya sebagai objek wisata semata, tetapi juga sebagai ruang yang mengintegrasikan nilai religi, budaya, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Konsep ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem wisata yang berkelanjutan.

“Candi ini merefleksikan wisata religi, budaya, hingga aktivitas bisnis dan kemasyarakatan. Jadi tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga dihidupi,” tambahnya.

Sementara itu, konseptor lainnya, Heri Susilo menjelaskan pembangunan candi ini mengacu pada pola peradaban era Kerajaan Medang Kamulan yang menempatkan spiritualitas sebagai pusat kesejahteraan. Hal ini tercermin dari nama “Sri Sedana” yang bermakna kesejahteraan.

“Konsepnya berbentuk mandala, dengan pusat spiritualitas di tengah, lalu lingkar berikutnya diisi teknokrat dan ilmuwan, serta lingkar luar berupa unit bisnis yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat,” jelas Heri.

Secara fisik, candi ini memiliki tinggi sekitar 17 meter dengan tujuh tingkatan atau trap yang sarat makna simbolik. Kawasan ini direncanakan memiliki luas total lebih dari 20 hektar, dengan pengembangan yang mencakup kebun anggur seluas 10 hektar, kampung seni sekitar 1,3 hektar, serta area pemberdayaan masyarakat.

Heri menegaskan bahwa bangunan merupakan candi baru atau buatan, namun tetap mengadopsi nilai-nilai spiritualitas lama. Struktur dasar candi menggunakan beton yang dilapisi batu, serta dilengkapi elemen simbolik seperti logam mulia dan batu berharga di bagian fondasi.

“Ini full buatan, tetapi membawa nilai spiritualitas lama. Jadi bukan sekadar bangunan, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan,” katanya.

Selain sebagai destinasi wisata, kawasan ini juga dirancang untuk kegiatan keagamaan lintas keyakinan. Sejumlah komunitas, termasuk dari Bali, disebut telah rutin mengadakan kegiatan spiritual di lokasi tersebut, dengan rencana agenda tahunan yang lebih besar ke depan.

Pengembangan kawasan ini juga mengusung konsep ekowisata melalui pemanfaatan lahan produktif seperti kebun anggur, serta rencana penanaman komoditas lain seperti kopi dan vanili yang melibatkan masyarakat setempat.

Ke depan, keberadaan Candi Candra Geni Sri Sedana diharapkan mampu menjadi magnet baru pariwisata di Sleman. Tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....