Satu Tahun Hasto-Wawan, Fokus 'Noto Urip Bareng'

  • 31 Mar 2026 15:47 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Wakil Wali Kota Wawan Harmawan, berbagai perubahan signifikan terjadi terutama dalam rekonstruksi sosial masyarakat yang menitik beratkan bagi masyarakat atau 'Wong Cilik'. Rekonstruksi sosial atau “noto urip bareng” adalah menata kembali kebiasaan hidup masyarakat agar lebih tertib, sehat, dan berkelanjutan.

Wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan, selama satu tahun kepemimpinannya bersama Wawan Harmawan merupakan tahapan pembelajaran sekaligus memulai perubahan. Di mana tahapan ini peran dan dukungan berbagai pihak termasuk masyarakat sangat penting untuk menyukseskan program yang digulirkannya.

Menariknya, skema perubahan yang dilakukan Hasto-Wawan hadir semenjak 100 hari pertamanya dengan melakukan gebrakan yang sistematis dengan merubah pola baik di tingkat OPD hingga Kemantren untuk menghadirkan inovasi-inovasi yang menyentuh masyarakat secara langsung melalui program perubahan atau Quick Win.

"Bahwa dasarnya itu adalah kita melakukan perubahan perilaku. Oleh karena itu, rekonstruksi sosial itu menjadi tema kerja-kerja teknokratis yang ada, selain ada visi misi maka adalah menjadi backbone-nya atau tulang punggungnya adalah bagaimana merekonstruksi sosial," katanya, disela Syawalan dan Refleksi Satu Tahun Hasto dan Wawan, di Taman Budaya Embung Giwangan, Senin, 30 Maret 2026.

Dalam mengatasi masalah yang dihadapinya langsung setelah dilantik yakni sampah, Hasto melakukan perubahan signifikan, di mana sampah yang sebelumnya menggunung di depo perlahan diselesaikan kemudian membangun kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampahnya.

“Dulu masyarakat masih sering buang sampah sembarangan atau war wer, sekarang kita ajak untuk mulai memilah sampah dari rumah,” ucapnya.

Perubahan atau rekonstruksi sosial ini dijelaskan Hasto, tidak hanya berlaku dalam penanganan sampah, tetapi dalam seluruh bidang, baik tertib lalu lintas, tertib parkir, tertib di tempat-tempat destinasi wisata, termasuk tertib dalam hal-hal lain yang menyangkut masalah ketaatan terhadap regulasi.

Selain permasalahan sampah yang terus digencarkan melalui gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), Satu Kampung Satu Bidan atau Tenaga Keseahatan juga menjadi program yang diharapkan memberikan kepastian kesehatan terutama bagi kelompok masyarakat rentang.

Disamping itu, kekuatan utama Yogyakarta dalam nilai gotong royong juga dimaksimalkan Hasto Wardoyo untuk mengatasi berbagai persoalan sosial, baik dari sisi kesehatan maupun kemiskinan. Salah satunya dengan menggencarkan program Bedah Rumah yang rutin dilakukan setiap minggu.

Menariknya, program ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan murni hasil kolaborasi dan gotong royong masyarakat. Melalui Program ini warga kurang mampu bisa menyelesaikan kemiskinannya dengan gotong royong.

"Bedah rumah ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan bisa menghadirkan solusi,” ujarnya.

Meski berbagai capaian yang menyentuh secara langsung masyarakat sangat dirasakan bahkan secara tatap muka dilakukan setiap hari Rabu dengan Open House Wali kota untuk mendengarkan setiap keluhan, aspirasi, ataupun inspirasi yang datang dari masyarakat, tetapi Hasto tidak lantas berpuas diri dengan capaian tersebut.

"Masih sangat-sangat banyak ya hutang saya, contoh begini. Kami kan pengin sekali ada Jogja ini Kota Pelajar, kemudian One Village One Sister University. Jadi, bagaimana kampung-kampung di Kota Yogyakarta ini ada jam belajar yang didampingi oleh perguruan tinggi," katanya, mengungkapkan.

Meski belum terwujud signifikan, namun tahapan menghadirkan pendampingan perguruan tinggi ke masyarakat ini juga sudah dilakukan dengan membangun kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di DIY.

Disamping itu, Hasto juga menyebut, sebagai Kota Budaya juga ingin membangun Yogyakarta yang lebih produktif berbasis budaya sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang baik.

"Nah, ini juga menjadi bagian yang yang masih menjadi PR-PR kami ke depan. Oleh karena itu di tahun 2026 ini kalender event, kemudian juga juga bagaimana katakanlah mengembangkan senter-senter untuk unggulan ekonomi harus kami kerja keras ke sana," ujarnya, menjelaskan.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengungkapkan bahwa dirinya bersama Hasto aktif turun langsung ke kampung-kampung melalui kegiatan blusukan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana menyerap aspirasi masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk keteladanan langsung, terutama dalam program pemilahan sampah.

“Kami tidak hanya mengajak, tapi juga memberi contoh," katanya.

Dalam rangkaian acara tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok yang berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan dan ekonomi sirkular. Penghargaan diberikan kepada berbagai pihak, di antaranya Bank Sampah Sekar Arum, pengawas pemilahan sampah seperti Kuat Suparjono, Jade Tri Atmaja, dan Yusran Reta Wibawa, serta Srikandi Pilah Sampah yakni Dian Wijaningrum.

Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Bank Sampah Suryo Resik, Pemuda Inovator Lingkungan Satrio Herlambang, serta Jawara Mas JOS Aman Yuriadijaya. Di akhir acara, Hasto dan Wawan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang telah mendukung berbagai program pembangunan di Kota Yogyakarta selama satu tahun terakhir.

Hasto mengungkapkan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan perubahan nyata di Kota Yogyakarta.

"Dengan fondasi yang telah dibangun selama satu tahun pertama, kami optimistis dapat terus membawa Kota Yogyakarta menjadi kota yang tidak hanya nyaman dan aman, tetapi juga produktif berbasis budaya dan partisipasi masyarakat," ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....