Lebaran di Perancis: Diantara Keberagaman Beragama

  • 27 Mar 2026 10:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gema takbir mungkin tidak berkumandang melalui pengeras suara di sudut-sudut kota Marseille, namun kehangatan Idul Fitri tetap terasa kental bagi komunitas Muslim Indonesia di sana. Irma, seorang perantau asal Medan, Sumatra Utara, membagikan kisahnya merayakan hari kemenangan di negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, Yahudi, dan warga penganut Ateis.

Menetap di Marseille sejak 2019, Irma menyaksikan bagaimana akulturasi budaya Islam dari keturunan Aljazair, Tunisia, Maroko, hingga Komoro memberi warna tersendiri pada perayaan Lebaran. Meski tradisi "mohon maaf lahir dan batin" serta bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) uang tunai tidak umum di sana, esensi silaturahmi tetap terjaga melalui ucapan "Eid Mubarak", pelukan hangat, dan pemberian kado kecil bagi anak-anak

Berbeda dengan di tanah air, Idul Fitri di Prancis bukanlah hari libur nasional. Para pekerja Muslim biasanya harus mengajukan izin khusus atau mengambil cuti tahunan selama satu hingga dua hari untuk bisa beribadah dan berkumpul bersama keluarga.

"Pengumuman Idul Fitri biasanya menunggu keputusan Grand Mosquée atau Imam Besar di Paris," ujarnya. Namun, dalam pengalamannya, penetapan hari raya di sana sering kali mengikuti jadwal dari Arab Saudi.

Keterbatasan kapasitas masjid di Marseille menjadi tantangan tersendiri. Karena masjid yang ada tidak terlalu luas dan minim lahan parkir, pelaksanaan Salat Idul Fitri biasanya dilakukan dalam dua gelombang untuk mengakomodasi jamaah yang membeludak.

Irma sendiri memilih merayakan Salat Id di Kantor Konsulat Indonesia. Selain jadwalnya yang lebih fleksibel (sekitar pukul 08.30 atau 09.00 pagi), suasana di Konsulat memberikan obat rindu akan kampung halaman.

Momen yang paling berkesan bagi Irma adalah tingginya rasa toleransi saat perayaan berlangsung. Acara silaturahmi di Konsulat tidak hanya dihadiri oleh umat Muslim, tetapi juga rekan-rekan beragama Kristen dan Hindu yang tinggal di Prancis.

"Kami sangat menyatu dalam hal toleransi beragama dan sudah seperti saudara," ucapnya.

Sajian khas Nusantara pun menjadi bintang utama dalam menjamu tamu lintas budaya tersebut. Hidangan seperti:

  • Lontong sayur
  • Rendang
  • Bakso
  • Aneka kue kering hari raya

Tradisi halal bihalal pun berlanjut hingga satu minggu setelah lebaran di kediaman masing-masing teman maupun keluarga. Meski jauh dari keluarga besar di Medan, Irma mengaku tetap merasakan kehangatan Lebaran berkat dukungan suami dan komunitas yang solid di negeri orang.

(Kontributor Muslimat NU DIY: Irma Sari Matondang, SE, Diaspora Indonesia di Marseille Perancis)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....