Balai Bahasa DIY Edukasi Penulisan Buku Cerita Anak
- 11 Mar 2026 11:31 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menyediakan bahan bacaan bagi anak usia dini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Sering kali, penulis terjebak pada keinginan untuk menuangkan banyak pesan moral dan cerita yang menggebu-gebu, tanpa menyadari bahwa kalimat yang terlalu panjang justru sulit dicerna oleh anak yang baru belajar membaca. Menjawab tantangan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menggencarkan standar "Penjenjangan Buku Cerita Anak" agar literasi yang dihasilkan benar-benar ramah dan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak.
Dalam bincang-bincang hangat di program Dialog Interaktif "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta, Rabu 11 Maret 2026, Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa DIY, Wuri Rohayati, S.S., mengungkapkan bahwa penjenjangan buku bertujuan untuk memberikan materi yang presisi sesuai dengan kemampuan membaca sasaran.
"Bagi anak-anak di tahap pembaca dini atau Jenjang A, yakni rentang usia 0 hingga 7 tahun, aturannya sangat ketat. Satu kalimat maksimal hanya boleh terdiri dari lima kata, dan satu halamannya maksimal hanya dua kalimat. Bahasa yang digunakan harus sangat sederhana, familier, dan didominasi oleh kata dasar, karena pemicu utamanya nanti adalah gambar ilustrasi," ujar Wuri.
Melengkapi penjelasan tersebut, Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa DIY lainnya, Wuroidatil Hamro, S.S., memaparkan bahwa aturan akan sedikit melonggar seiring dengan bertambahnya usia sasaran pembaca. Untuk Jenjang B3 yang ditujukan bagi pembaca usia 8 hingga 10 tahun, penulis sudah diperbolehkan menggunakan kalimat majemuk yang dikemas secara sederhana.
"Meskipun pembacanya sudah lebih besar, batasan tetap ada agar pesan tidak tumpang tindih. Untuk Jenjang B3, satu kalimat maksimal terdiri dari 12 kata. Kemudian satu paragraf maksimal tiga kalimat, dan satu halamannya maksimal hanya memuat dua paragraf," katanya.
Lebih lanjut, edukasi mengenai aturan penjenjangan buku ini juga menjadi bekal penting bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam "Sayembara Penulisan Cerita Anak Berbahasa Jawa Tahun 2026" yang digelar oleh Balai Bahasa DIY. Kompetisi dengan total hadiah Rp145 juta ini menantang para penulis di DIY mulai dari usia minimal 14 tahun untuk menciptakan cerita dwibahasa (Jawa dan Indonesia) yang memuat kearifan lokal serta bersubstansi sains dan teknologi (STEM).
Dalam sesi tanya jawab, isu mengenai eksplorasi ide lokal dengan sains sempat mengemuka. Pak Wening, seorang pendengar dari Wonosari, menanyakan apakah tokoh pewayangan seperti Gatotkaca bisa dikorelasikan dengan teknologi dirgantara modern dalam cerita anak. Wuri dan Iid menyambut baik ide tersebut, dengan catatan penulis harus mampu menyajikannya dalam bahasa Ngoko yang mudah dicerna dan tetap patuh pada kaidah penjenjangan buku.
Sejak tahun 2022, Balai Bahasa DIY secara konsisten telah memproduksi ratusan judul buku cerita anak yang bisa diakses publik melalui Laman Penjaring Kemendikbudristek. Melalui penerapan penjenjangan buku yang terukur dan sayembara yang menjaring penulis-penulis baru, Balai Bahasa DIY berharap ekosistem perbukuan lokal dapat terus bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata dalam mencerdaskan generasi muda penerus bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....